Beranda > Kehidupanku > “Burung Bersayap Emas”

“Burung Bersayap Emas”


Namaku Adit, aku lahir 17 tahun yang lalu tepatnya di Kota Bandung. Sekarang aku duduk di kelas 3 SMA di sekolah yang cukup favorit di Surabaya. Ini adalah kisah tentang kehidupan yang kualami selama hampir 10 tahun, sebuah kisah yang membuatku begitu tertekan dengan segala macam tuntutan orang tua jaman sekarang.

Sepuluh tahun yang lalu,saat aku masih berusia 7 tahun, aku diperkenalkan dengan dunia yang sebelumnya belum pernah kupikirkan sama sekali. Aku diperkenalkan pada seorang pelatih renang privat, aku hanya berpikir aku akan belajar berenang bersama orang itu. Orang itu bernama Haryadi, aku memanggilnya dengan sebutan Pak Haryadi.
Dari kejadian awal inilah hidupku yang tadinya bagaikan burung camar yang bisa terbang bebas menjelajah dunia berubah menjadi bagaikan burung kutilang yang ada dalam sangkar, hanya bisa menjerit, bukan karena lapar atau dingin, tapi justru karena aku tidak lagi bisa mengepakan sayapku sebebas mungkin untuk melihat dunia. Aku yang tadinya tidak bisa berenang ini setelah dilatih secara rutin selama 2 bulan akhirnya bisa juga mengapung dalam air, kupikir latihanku sudah selesai karena aku sudah bisa berenang, namun ternyata salah. Pelatihku mengatakan bahwa aku memiliki potensi yang besar untuk menjadi seorang atlet renang. Ternyata orang tuaku menyetujui hal itu, padahal bagiku itu hanya akan menyita waktuku untuk terbang bebas. Namun apalah daya anak berumur 7 tahun memprotes keiinginan dan ambisi orang tuanya.

Akhirnya dimulailah waktu – waktuku dengan kolam renang selama hampir 2 tahun.
Pada saat aku berumur 9 tahun aku mengikuti event perdanaku yaitu POPDA tingkat kabupaten. Aku yang masih baru bisa berenang ini benar – benar merasakan bingung dan canggung karena aku harus bertanding dengan banyak rival yang sama sekali tidak aku kenal. Penampilan perdanaku bisa dibilang cukup sukses karena ternyata aku mampu menjadi juara, jauh dari perkiraan orang tuaku yang hanya mengharapkan aku finish saja. Kemudian aku berhak berangkat ke tingkat karisedenan, namun disini aku belum terlalu bisa banyak bicara karena aku belum berpengalaman.
Tahun – tahun selanjutnya aku mulai sering mengikuti kejuaraan – kejuaran baik lokal maupun provinsi. Pada awalnya aku masih merasa sangat ringan karena orang tua dan pelatihku tidak pernah sama sekali membebaniku dengan target menjadi juara. Aku mampu menikmati semua perlombaan yang kuikuti dengan perasaan senang.
Hari demi hari terus kulalui dengan berlatih berlatih dan berlatih, sampai akhirnya aku mampu menunjukan kemampuanku di level provinsi,bahkan aku sekarang sudah menjadi pertimbangan saat ada event – event, banyak teman – teman yang menjulukiku kodok, mungkin julukan itu ada benarnya karena aku berenang begitu cepat bagai seekor kodok.
Menginjak usia 12 tahun aku mulai mengikuti event berskala nasional, tidak ada yang meragukan kemampuanku, namun aku merasakan orang tua dan pelatihku mulai membebaniku dengan berbagai macam target dan tujuan, di satu sisi aku senang karena aku menjadi pusat perhatian semua orang, namun di lain sisi aku merasakan bahwa sayapku menjadi semakin berat oleh beban yang harus kutanggung.
Pada saat aku menginjak SMP, di klub renangku kedatangan seorang anggota baru yang cukup berbakat. Dari sorot matanya anak ini sangat ambisius, dia adalah Doni, anak laki – laki seumuran denganku. Dia menjadi partnerku dalam berlatih dan berlomba. Kedatangan anak inilah yang mulai membuat aku menjadi mengerti arti sesungguhnya dari kebebasan. Setelah hampir 2 tahun berlatih bersama dia menjadi sahabat sekaligus rival yang paling berat, tidak hanya di dalam air, namun juga disekolah. Aku bersaing meraih nilai terbaik bersaing denganya. Awalnya memang menyenangkan namum hal itupun terjadi. Doni pindah ke luar Jawa bersama keluarganya, namun ditengah perjalanan kapal yang ia naiki terbalik dan Doni tak mampu menemuiku dalam keaadaan yang sama. Mengetahui kejadian itu aku cukup terpukul namun aku juga merasa sedikit lega, sebab selama ini dia sering mengatakan padaku bahwa dia merasa sangat tertekan oleh target juara di kolam dan juara di sekolah. Bahkan dia sempat menceritakan padaku bahwa ayahnya pernah menamparnya karena dia gagal dalam salah satu event yang kami ikuti. Sekarang aku mampu tersenyum lega karena sahabatku sudah mampu terbang lagi bagaikan burung, walaupun terhalang oleh nisan aku bisa merasakan bahwa dia merasa senang dan lega.
Setelah kejadian itu semangat berlatihku mulai menurun, namun tiba – tiba aku dikejutkan dengan adanya undangan untuk menemui Bupati, aku sangat kaget karena merasa aku bukan siapa – siapa yang pantas mendapatkan undangan langsung dari bupati. Akhirnya aku pun berangkat menemui bupati, lalu aku ditanya bermacam – macam hal mulai dari keluarga hingga sekolah. Ternyata Bapak Bupati berkeeinginan untuk memberikan bonus tahunan kepada anak muda yang berprestasi. Dan aku salah satu penerimanya. Hal ini membuat semangatku naik lagi, sekarang aku merasa aku sudah mampu menghasilkan uang dari deras keringatku sendiri. Mulai hari itu aku berlatih dengan sangat sungguh – sungguh, namun masih ada yang mengganjal di hatiku. Padahal aku sudah memiliki semua yang aku ingin.
Aku terus memikirkan hal itu, namun tak kunjung menemukan jawaban. Lama kelamaan aku menjadi sedikit terbiasa dengan perasaan itu. Aku tenggelam dalam gelimang harta dan prestasi yang kuraih. Sampai – sampai aku merasa jenuh berlatih terus menerus.
UAN kelas 3 SMP segera tiba, mau tidak mau akupun mulai memikirkan sekolahku lagi setelah sempat ketinggalan sangat jauh dari rival – rival disekolah. Hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit semua kulalui dengan belajar. Untungnya orang tuaku cukup mampu untuk memberikan les tambahan pada diriku.
Akhirnya UAN SMP mampu kulalui dengan nilai yang cukup memuaskan. Aku mampu masuk ke SMA favorit dan berhasil mendapatkan peringkat 2 pada saat pendaftaran. Orang tuaku hanya berpesan agar aku segera kembali berlatih lagi dan jangan lupa untuk belajar lagi. Hari – hari di SMA kulalui dengan agak bingung, ternyata SMA dan SMP sungguh sangat jauh berbeda. Aku merasa bahwa aku tidak mampu apabila aku diharuskan berenang 6 hari seminggu dan harus mendapatkan nilai yang baik agar tidak gagal dalam ulangan harian.

Suatu hari aku berangkat untuk berlomba di tingkat Provinsi, orang tuaku berkata agar aku jangan sampai kalah, minimal harus membawa pulang satu medali. Di sini aku sudah mulai tertekan dan merasa sangat khawatir. Aku merasa takut pulang apabila kalah dan tidak mampu membawa pulang 1 medali.

Ternyata firasatku benar, aku gagal memperoleh 1 medali pun dalam perlombaan itu, kalau dulu kalah maupun menang aku selalu dipuji sekarang justru caci maki dan hinaan datang padaku, tak hanya itu aku juga mendapat hadiah tamparan keras dari orang tuaku.
Akhirnya aku merasa bahwa orang tuaku dan pelatihku hanya memanfaatkan aku untuk ambisi mereka saja. Di saat melatih aku, pelatihku mendapatkan sertifikat sebagai pelatih nasional dan orang tuaku menjadi pembicaraan karena anak mereka mampu berprestasi di bidang renang. Perlombaan demi perlombaan kulalui penuh tekanan seperti ini, namun bukanya prestasiku membaik, tapi justru anjlok dan sekolahkupun mulai berantakan. Orang tuaku masih saja menyalahkan aku. Pelatihku selalu mengumpat saat aku berlatih. Lama kelamaan aku merasa seperti hampir meledak.

Puncaknya yaitu pada saat aku kelas 2 SMA, aku sudah sangat muak dengan tekanan orang tua dan pelatihku, akhirnya akupun mencari pelarian dengan cara yang salah. Aku mulai mabuk, merokok, keluar malam, pulang pagi, bahkan aku juga mulai melakukan tindakan kriminal. Sekolah pun aku sudah sangat malas, sering aku kabur dari sekolah, kalaupun berangkat aku tidak akan mengikuti pelajaran. Yah mungkin ini semua karena aku sudah merasa sangat tertekan dan bosan. Aku benar – benar merasa sangat benci pada orang tuaku dan pelatihku, aku tidak lagi menganggap mereka lagi.
Ketika aku sedang dalam masa pelarian, walaupun aku tahu semua yang kulakukan itu salah tapi aku merasa sangat bebas. Aku merasa tidak ada lagi yang membebaniku dengan berbagai macam hal. Tidak ada lagi yang memarahiku dan mencaciku seperti pada saat aku menjadi anak baik – baik.

Setelah sekian waktu berlangsung aku mulai merasakan bahwa sepertinya orang tuaku mulai mencium perbuatanku, dan ternyata firasatku benar dan aku tertangkap tangan sedang mabuk dan merokok. Malam itu aku menjadi bulan – bulanan kedua orang tuaku. Sepertinya malam itu aku bukan dianggap seperti anak mereka lagi. Malam berikutnya, ini adalah puncak dari rasa tertekan dan emosiku. Seakan – akan apa yang ada dalam otakku saat itu ingin meledak. Aku dan kedua orang tuaku berdebat semalaman, mereka terus menanyakan kenapa aku melakukan hal itu, padahal aku sudah diberi segala yang aku ingin, mulai dari uang hingga barang yang aku ingin sudah mereka berikan.
Memang bisa dibilang aku tercukupi secara materi, tapi aku tidak dapat merasakan ketentraman hati. Hatiku benar – benar tertekan. Sayapku sudah tak mampu lagi kukepakan karena sudah dilapis emas, indah memang, tapi sangat menyiksa batinku. Sayap yang terlalu berat untuk kukepakan, aku ingin mematahkanya, namun aku tak bisa.
Di malam itu akhirnya aku mendapat kesempatan untuk menyampaikan apa yang kuarasa, aku mengatakan semuanya pada kedua orang tuaku. Aku sudah cukup muak dengan semua ini. Berjam – jam kami berdebat, namun orang tuaku masih saja keras kepala, sampai akhirnya aku menyampaikan bahwa aku sudah tak sanggup lagi terkekang dengan berbagai macam aturan dan target hanya untuk memenuhi ambisi mereka.
Setelah kata – kata itu terucap orang tuaku terdiam sebenta, entah apa yang mereka pikirkan, namun yang jelas aku benar – benar muak melihat mereka yang tidak juga mau mengerti jalan pikiran anaknya. Kami terdiam, suasana saat itu sangat mencengangkan. Aku benar – benar merasa puas karena sudah mengatakan semuanya, tak peduli mereka mau mendengarkan atau tidak. Kemudian ayahku berkata bahwa mereka mengakui bahwa mereka salah karena termakan oleh ambisinya sendiri hingga mengorbankan masa muda anaknya, mereka berjanji bahwa mereka tak akan lagi membebaniku dengan target – target pemenuhan ambisi mereka lagi.
Waktu terus berlalu, hingga saat ini sedikit banyak kehidupanku sudah membaik, mungkin orang tuaku akhirnya menyadari kesalahan mereka, namun aku tak tahu apakah mereka benar – benar merasa bersalah atau hanya menunggu hingga aku siap untuk dijadikan mesin pemenuh ambisi lagi.
Mungkin pengalamanku bisa menjadi pelajaran bagi orang tua agar tidak menjadikan anaknya sebagai pemenuh ambisi mereka semata. Pikirkanlah bahwa anak – anak juga memiliki hati. Tak perlu melapisi sayap mereka dengan emas dan memberikan sangkar berhias permata, tapi cukup memberikan kesempatan bagi mereka untuk merasakan nikmatnya terbang dengan sayap mereka sendiri, tanpa tekanan dan tanpa beban pada sayap mereka.

Kategori:Kehidupanku
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: