Beranda > Kehidupanku > “Dunia Dalam Berita”

“Dunia Dalam Berita”


SEBUAH bungkus rokok lusuh berada di atas meja. Beberapa puntung rokok melengkung di dalam asbak Satu puntung masih menyisakan asap. Sebuah korek bensol bersandar di dinding asbak. Di atas meja juga terdapat sebotol bir dan gelas kotor bercampur abu rokok. Di ruang tamu itu terdapat sebuah akuarium seukuran setengah meter dengan beberapa ikan yang terus mengitari kaca berbentuk persegi. Sebuah kipas angin di pojok ruang tamu menggelengkan kepala seolah seorang dzikir yang kusyuk di ruang lenggang.

Bel berbunyi beberapa kali. Sepertinya ada seseorang yang menekan bel dari balik pintu. Menekan sekali lagi. Tetapi tidak ada yang berubah di ruang tamu itu. Semua benda seolah tampak sibuk dengan kesunyian masing-masing. Dan lagi-lagi suara kipas masih kusyuk dengan dengungannya. Sebuah koran dipaksa masuk dari balik celah di bawah pintu.

Sebuah Headline bertuliskan Kematian Seorang Pejuang Keadilan berada di atas sebuah gambar yang mendominasi sepertiga halaman pertama surat kabar itu. Gambar itu sudah tidak asing lagi. Gambar yang sering muncul di berbagai media. Itu adalah gambar Arronov Alleansky yang tewas terbunuh. Siapa di dunia ini yang tak mengenal Allensky, pemerjuang dan pembela keadilan dunia. Setiap orang akan mendendam, marah, dan mengutuk peristiwa terbunuhnya aktivis keadilan dunia itu.

Kematian Seorang Pejuang Keadilan

Warta Pagi Post (29/9). Seluruh dunia sedang berduka dengan terbunuhnya pejuang keadilan yang memperjuangkan hak-hak rakyat tertindas oleh kebijakan-kebijakan penguasa kapitalisme. Alleansky ditemukan tewas di dekat bandara Grenikove dengan wajah yang mengenaskan. Hasil otopsi yang dilakukan oleh tim medis dapat disimpulkan bahwa Alleansky tewas terbunuh. Hal ini dibuktikan dengan luka suntikan di belakang kepalanya. Pembunuh sengaja measukkan zat kimia tersebut ke dalam otak Alleansky….baca Allensky hal 15. kol. 8.

Suasana di ruang tamu itu masih seperti sedia kala. Hanya puntung rokok di atas asbak yang sedari tadi mengepul tipis, kini telah padam. Puntung itu telah menyusul kematian puntung-puntung sebelumnya. Sebuah jam gantung membunyikan pukulannya sebanyak enam kali. Di ruang tengah, selain terdapat jam gantung, terdapat sebuah sofa di pojok menghadap ke arah televisi flat seukuran dengan akuarium. Sebuah remot terjatuh di lantai karpet di samping seekor kucing hitam-gemuk yang tengah tertidur dengan suara dengkuran. Kucing itu menekuk tubuhnya melingkar menghadap ke arah televisi yang sedang menyala lirih.

“Para pemirsa, pemerintah PBB telah mengumumkan kepada masyarakat dunia bahwa perang hanya akan membawa penderitaan. Tidak ada kedamaian yang diperoleh dengan perang. Hal ini dinyatakan oleh sekjen PBB kemarin pada saat melakukan teleconference dengan wartawan News On TV. Pemerintah PBB mengecam keras segala bentuk tindak kekerasan perang. Sekjen PBB juga menyanyangkan tindakan AS saat melakukan infasi ke Irak beberapa waktu lalu. Hal ini seharusnya tidak terjadi dan tidak akan ada lagi bentuk infasi, apapun alasannya…”

Layar di TV berubah menjadi gambar-gambar yang menyajikan korban perang. Tangisan ada di mana-mana. Anak kecil telanjang yang kehilangan orang tuanya menangis di antara reruntuhan gedung dan mayat-mayat. Masyarakat sipil yang terluka. Anak-anak kecil yang kehilangan masa depan karena cacat. Perempuan tua yang tertimbun bangunan dan belum sempat ada pertolongan. Suara bayi yang menangis di antara pengungsian. Wabah penyakit dan kelaparan menjangkit di seluruh kota. Tank-tank yang angkuh merobohkan bangunan-bangunan tinggi. Bom berpesta di langit dan di bumi. Pistol-pistol bernyanyi tanpa henti. Peluru-peluru melesat buta tanpa mengenali sasaran. Suara lantunan John Lenon bersama The Beattles dalam Imagine mengiringi tangisan buram seolah bumi sudah tak layak lagi dihuni manusia.

Sebuah deringan telefon terdengar dari arah ruang berikutnya. Di ruang itu terdapat ruang kerja bersama dengan sebuah perangkat komputer. Di sampingnya terdapat beberapa print out artikel yang sepertinya dicopi dari sebuah internet. Beberapa artikel masih menempel di mulut printer yang ditunggu oleh jam weker yang terus memutar jarum ke berbagai arah. Bel terus berbunyi hingga beberapa kali. Bunyi deringan telefon itu di susul dengan bunyi ponsel di sebuah kamar.

Dalam kamar terdapat sebuah spring bed yang tertutup rapi dengan kain tebal berenda di sisi pinggirnya dan sisi tengahnya. Di pinggir kasur itu terdapat satu stel jas – yang sepertinya dibuang begitu saja oleh pemiliknya dan sebuah ponsel yang layarnya berkedip-kedip dengan nama Jessy05. Juga sebuah lemari kaca dan lemari gantung yang ikut mengisi ruangan itu. Ada sebuah bingkai lukisan di dinding kamar itu. Jessy05 terus menerus membuat layar ponsel berkedip dengan diiringi suara deringan. Juga telefon di ruang tengah yang terus menerus ikut membunyikan deringannya.

Di samping ruang kerja tersebut ada sebuah tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai berikutnya. Di ruangan atas tersebut tampak seperti sebuah ruang pameran lukisan. Ada beberapa macam lukisan. Semua tertata secara artistik. Namun dari berbagai lukisan tersebut ada satu persamaan atau dapat ditarik semacam benang merah untuk menghubungkan berbagai macam lukisan tersebut – tema.

Lukisan-lukisan dalam ruangan ini seperti sedang menceritakan sesuatu dengan bebas. Tanpa ada pakasaan. Seumpama seorang penari, maka ia akan menggerakkan segala organ tubuhnya ke segala dimensi. Seumpama seorang penulis ia akan menggoreskan ujung penanya ke setiap lembaran. Lukisan-lukisan ini benar-benar bebas. Mereka hidup dalam jalannya masing-masing. Seumpama seorang penyanyi, ia akan berteriak hingga ujung pita suaranya. Memberi warna dunia dengan gerak, suara, dan goresan. Lukisan itu berteriak, menghentak, menggores, menari, meliuk, menyampaikan satu isyarat : kejamnya perang!

Telefon di lantai bawah masih berdering terus. Hingga suara itu disusul oleh pukulan jam gantung sebanyak tujuh kali. Juga suara jam weker yang turut berdering di samping layar monitor.

***

SUARA piring terjatuh di lantai terdengar dari arah dapur. Di lantai dapur itu tercecer pecahan piring yang berserakan di lantai. Seekor kucing hitam-gemuk sedang menjilati makanan yang tertumpah di atas lantai dengan lahabnya. Piring-piring tertata rapi di rak. Beberapa peralatan masak tergantung di dinding. Sebuah lemari es dua pintu ukuran besar juga ikut memeriahkan ruang dapur. Kucing hitam-gemuk itu sudah tak ada dilantai, ia mencoba menjilat air yang berada di sebuah gelas. Ia kesulitan memasukkan kepalanya, karena gelas itulebih tinggi dari pada lehernya. Kucing itu memecahkan gelas.

Di depan dapur itu terdapat sebuah ruang makan keluarga. Sebuah meja oval besar dengan kursi-kursi ukiran klasik melingkar menghias sisi sepanjang meja makan. Di atas meja itu tak terdapat apa-apa selain sebuah piring besar dengan beberapa buah di atasnya. Seseorang sepertinya baru saja mengupas salah satu buah yang ada di atas meja dan sengaja tak menghabiskannya, kemudian ditaruh begitu saja di pinggir meja. Kucing hitam-gemuk itu kembali meloncat ke arah meja. Ia mencari-cari makanan, namun setelah usaha pengendusannya itu dirasa sia-sia ia meloncat ke lantai dan mendapati sebuah piring tempat biasanya ia makan kosong. Juga sebuah baskom -yang mungkin biasanya– digunakan untuk menjilati susu.

Sebuah waste face menggantung di tembok tak jauh dari meja makan. Di sana juga ada sebuah radio kecil bersuara lirih karena gelombang radio itu tak terdeteksi tepat, sehingga suara kabur yang terdengar keras. Sepertinya radio ini dinyalakan ketika seseorang tengah memakan buah .

“Para pendengar setia, berikut adalah berita ringan dari ibu kota. Puluhan mahaiswa tengah berdemo di balai kota untuk menuntut hak-hak kesehatan bagi rakyat miskin yang terabaikan. Para demonstran menyerukan agar pemerintah segera memberikan kebijakan kepada rakyat yang tidak mampu agar mendapatkan fasilitas kesehatan yang sama. Selain menuntut hak-hak atas kesehatan, demonstran juga meneriakkan hak-hak untuk para gelandangan dan anak terlantar, yang sekarang makin bertambah banyak.

Beberapa polisi dan petugas keamanan dikerahkan untuk mencegah para demonstran untuk berbuat kerusakan. Namun, hal ini dapat diatasi, karena para demonstran yang terdiri dari para mahasiswa yang tergabung dalam Pembela Hak-hak Asasi Rakyat Tertindas atau Pehartas tersebut berjalan dengan tertib dan lancar. Mereka hanya menuliskan seruan-seruan di atas kertas, orasi, dan teaterikal mengenai pembelaan hak-hak atas rakyat tertindas.

Baiklah pemirsa itu tadi berita sekilas dari ibu kota yang berhasil dihimpun oleh wartawan Radio Number One Channel Radios Cities di sembilan puluh tiga koma lima ef em. Nantikan berita ringan sekilas seputar kota satu jam mendatang untuk menemani segala aktivitas anda hari ini. Baiklah pendengar setia Radio Number One Channel Radios Cities kita kembali ke acara Oldiest Request. Kali ini saya akan memutarkan sebuah lagu yang diminta oleh Bapak Alamudi dari John Deiver berjudul Leavin’ On a Jet Plane. Baiklah, saya ingatkan sekali lagi Anda bisa me-request lagu-lagu oldiest kesayangan Anda melalui 3345678 atau lewat e-mail kami di Oldiestrequest@Radiocity.com. Berikut John Deiver dengan Leavin’ On Jet Plane. Radio City memang Number One Channel Radios Citis.”

Sebuah deringan telefon terdengar di ruangan itu, karena dalam ruangan itu terdapat telefon yang terhubung secara paralel dengan telefon di ruang depan. Beberapa kali telefon itu berdering. Sebuah mesin fax memutar roda-roda kecil untuk menarik kertas di atasnya. Menuliskannya. Kemudian mengeluarkannya melalui mulutnya:

+6521+890-244-457

LA RONDE AUTOUR DU MONDE

Si Toutes les filles Monde Voulaiient s’

donner la main,

Tout autour de la mer elles pourraient faire

une ronde,

Si tous les gars du Monde voulaient bien

etre marins,

Ils feraient avec leurs barques un joli pont

sur l’onde

Alors on pourrait faire une ronde autour du

Monde

Si tous les gens du Monde voulaient

s’donner la main

Dari arah kamar mandi terdengar suara shower sedang menyala. Pintu sedikit terbuka. Di dalam kamar mandi terdapat sebuah mayat seorang laki-laki tergeletak kaku-telanjang. Darah segar mengalir di antara sabun dan sikat gigi yang berserakan di lantai. Juga sebuah belati. Kening mayat itu tampak seperti apel yang jatuh dari atap. Kedua bola matanya menyembul hendak keluar dari kelopak. Mulutnya menganga kaku dengan lidah -agak – terjulur keluar. Beberapa sayatan di perutnya menyebabkan usus itu menghambur keluar. Kedua tangannya kaku menekan perut menahan usus-usus agar tidak benar-benar keluar. Di bagian tubuhnya lain terdapat beberapa lubang tusukan. Bercak-bercak darah juga terdapat di dinding porselin.

***

Karya Seni Telah Kehilangan Sang Maestro

Warta Pagi Post (30/9). Seluruh seniman kini tengah berduka atas meninggalnya seorang pelukis kenamaan Ahmad Syaifudin. Seniman tersebut telah meninggal dunia pada tanggal 29 kemarin sore. Syaifuddin meninggal karena usianya yang sudah tua. Ahli medis memperkirakan bahwa sang maestro tersebut terpeleset di kamar mandi dan kepalanya membentur tembok di depannya. Sebelum dilarikan kerumah sakit, Syaifuddin telah dijemut ajalnya…..baca Syaifudin hal. 13 kol. 6.

*Puisi berjudul Lingkaran di sekeliling Bumi adalah sebuah puisi yang pernah diberikan oleh seorang perempuan kebangsaan Prancis kepada pengarang pada suatu pementasan drama, dan pertemuan yang singkat itu tidak memberi kesempatan sebuah perkenalan: Andai semua gadis di bumi/ sudi saling berpegangan tangan/ di sekeliling samudra mereka mampu/ mencipta satu lingkaran/ andai semua pemuda di bumi/ sudi menjadi pelaut/ dengan sampan mereka cipta sebuah jembatan indah/ di atas gelombang/ hingga kita mampu mencipta lingkaran/ di sekeliling bumi/ Andai semua manusia di bumi/ sudi saling berpegangan tangan.

Kategori:Kehidupanku
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: