Beranda > Kehidupanku > Lost In Lombok

Lost In Lombok


Liburan lebaran tahun 2010 tidak hanya saya manfaatkan untuk merayakan lebaran dengan berkumpul bersama keluarga, tetapi juga menjadi satu sesi backpacking yang cukup menyenangkan. Yah, untuk kesekian kalinya saya backpackeran lagi! Kali ini saya memilih rute yang tidak terlalu jauh dari my hometown (Surabaya), yaitu Bali dan Lombok.
Walaupun dekat dengan kota asal saya, tapi saya merasa sedikit was-was juga dengan sesi backpacking kali ini. Mengapa? Karena ini pertama kalinya saya menjadi seorang solo traveler! What?? Nggak tahu apa itu solo traveler? Kemane aje bang?? Hehehe… canda… Jadi, solo traveler itu orang yang melakukan suatu perjalanan seorang diri, tanpa ada partner seorangpun. Begitu lho jeng…
Untuk cerita selama di Bali saya sudah “menuangkannya” disini. Nah, sekarang saya ingin menceritakan pengalaman saya selama di Lombok. Ready for this one? Let’s go!
First Impression
Jika ingin ke Lombok dari Bali, ada beberapa rute yang bisa ditempuh. Yang pertama dengan perjalanan udara dan yang kedua dengan perjalanan darat. Saya ingin mengumpulkan informasi tentang perjalanan termurah ke Lombok dari Bali, oleh sebab itu saya memilih opsi yang kedua.
Sarana transportasi umum di Bali tidak semudah di pulau Jawa. Agak susah menemukan kendaraan umum yang bisa membawa kita ke Padang Bay (pelabuhan yang menghubungkan Bali-Lombok). Informasi yang saya dapat dari Marvin (host saya di Bali), jika Anda yang ingin ke Lombok melalui jalur darat, harus pagi-pagi betul sudah “ngetem” di terminal Ubung-Bali. Mengapa demikian? Karena transportasi umum yang bisa membawa Anda sampai ke padang bay hanyalah bus-bus dari Jawa yang mau ke Lombok. Selain itu, tidak ada transportasi umum lain. So, it’s better to looking for the best host, like mine…
Dari Padang Bay ke Pelabuhan Lembar di Lombok bisa ditempuh dengan menggunakan kapal Ferry selama 4 jam perjalanan. Harga tiket untuk kapal ini relative murah, Rp.31.000 saja! Murah kan?? Kapalnya pun lumayan nyaman (untuk ukuran backpacker), ada ruangan ber-AC-nya di dalam. Tapi walaupun lumayan nyaman, bagi saya yang belum pernah naik kapal selama berjam-jam tetap saja bikin perut saya mual karena ombak di tengah laut yang lumayan “mengombang-ambingkan” kapal.
Anyway, di kapal saya duduk berhadapan dengan seorang laki-laki (bapak-bapak). Sebenarnya saya paling malas untuk berkenalan atau menyapa stranger seperti ini. Tapi karena saat itu saya lagi makan, nggak enak dong kalau nggak nawarin. Jadi sebagai basa-basi, saya nawarin dia makan. Terus dia tanya saya darimana dan mau kemana. Ya saya bilang saja kalau saya dari Bogor dan mau ke Gili Trawangan. Setelah saya tahu kalau dia orang asli Lombok, terus saya iseng-iseng nanya sama dia (padahal saya sudah tahu informasi ini), “kalau dari pelabuhan nanti ke Gili Trawangan saya harus naik apa saja ya pak?”. Dia jawab, “mbak harus ke terminal Mandalika dulu, dari sana naik angkutan lagi ke Bangsal. Dari Bangsal baru naik boat sampai ke Gili Trawangan”. Jawaban bapak-bapak ini persis sama seperti informasi yang saya peroleh di internet dan di lonely planet.
Sebelum kapal menepi di pelabuhan Lembar, si bapak mengajak saya untuk turun ke bagian parkiran kendaraan. Awalnya saya sudah parno mau diapa-apain. Tapi ternyata bapak itu mencarikan tumpangan untuk saya, biar saya nggak repot ke terminal Mandalika. Sebenarnya niat bapak ini sih baik, tapi saya menolak niat beliau itu karena saya ingin merasakan naik angkutan umum dan biar bisa jadi salah satu referensi untuk traveler lain yang ingin melakukan perjalanan ke Lombok. Sebelum saya dan bapak itu berpisah, si bapak sempat menanyakan no.hp saya. Awalnya agak was-was sih untuk memberi no.hp saya pada orang baru, tapi karena bapak ini tidak menampakkan gelagat yang mencurigakan, jadi saya berani memberi no.hp saya pada dia.
Pengalaman pertama bertemu dengan orang asli Lombok memberikan first impression yang berbeda pada saya. Saat itu saya masih bingung, apa orang Lombok emang asli baik dan suka menolong orang atau ada “udang dibalik batu?”
Ramahnya Orang Lombok
Setelah sampai di pelabuhan Lembar, saya mencari angkutan umum tujuan terminal Mandalika. Tidak terlalu sulit mencari angkutan di pelabuhan ini karena akan ada orang yang menawari dengan bilang, “mau kemana mbak? Terminal Mandalika ya?”. So kalau ada orang seperti itu, ikut saja dengannya dan nanti ia akan menunjukkan pada kita angkutan mana yang dapat membawa kita ke terminal Mandalika.
Anyway, perjalanan dari pelabuhan Lembar sampai ke terminal Mandalika lumayan jauh, sekitar satu jam perjalanan dengan ongkos Rp. 10.000,-. Kalau kita ingin ke Gili Trawangan dari terminal Mandalika harus naik angkutan sekali lagi. Angkutan ini akan membawa kita sampai ke Pemenang, satu kecamatan yang terdekat dengan Bangsal (pelabuhan menuju ke Gili Trawangan). Nah, saat saya sampai di terminal Mandalika, angkutan ke Pemenang sudah tidak ada sama sekali karena saat itu masih dalam suasana lebaran. Tapi Alhamdulillah, sopir angkutan saya baik sekali, ia mengantar saya sampai di Cakranegara. Menurut dia, kalau saya menunggu angkutan di Cakranegara akan lebih mudah daripada menunggu di terminal Mandalika. Saya nurut aja.
Ternyata di Cakranegara tidak hanya saya yang menunggu angkutan ke daerah Lombok Utara. Ada dua penumpang lain (satu mbak-mbak dan satu bapak-bapak) yang juga sedang menunggu angkutan yang sama. Melihat barang bawaan saya yang lumayan besar (satu carrier 45 liter) si bapak itu bertanya pada saya, “dari mana?”, “mau kemana?”, “kok sendirian aja?”. Gubraks, ujung-ujungnya nanyain pertanyaan yang selalu bikin saya speechless menjawabnya. Ya saya jawab saja semua pertanyaan si bapak, saya bilang kalau saya dari Bogor, mau ke Gili Trawangan untuk jalan-jalan, dan saya sendirian karena tidak ada teman yang mau diajak traveling bareng soalnya masih pada liburan lebaran semua sama keluarga masing-masing. Mendengar saya mau ke Gili Trawangan, si bapak dan mbak-mbak itu agak mengkhawatirkan apakah saya masih bisa dapat boat terakhir kesana? Tak diduga, tak disangka (halah), si bapak spontan menawari saya untuk menginap di rumahnya kalau saya ketinggalan boat terakhir ke Gili Trawangan. Awalnya saya agak-agak parno dengan orang baru seperti itu, tapi setelah melihat ketulusan dan kesungguhannya saat menawari saya, saya jadi berpikir kalau bapak ini memang benar-benar berniat untuk menolong saya kalau saya sampai ketinggalan boat terakhir. Baik banget ya… Hmmm… ramahnya orang Lombok!
Agak lama saya menunggu angkutan ke Bangsal, agak ketar-ketir juga sih… takut angkutan yang kesana memang sudah habis. Tapi Alhamdulillah, ternyata masih ada satu angkutan menuju ke Bangsal yang melintas di Cakranegara. Memang, keadaan angkutannya saat itu lumayan penuh, tapi masih cukup lah untuk menampung tiga orang lagi. Karena bawaan saya lumayan besar, si bapak-bapak dan mbak-mbak tadi mempersilahkan saya duduk di depan, dekat dengan pak sopir. Tapi saya nggak sendirian duduk di depan, dekat dengan pak sopir karena masih ada satu orang ibu-ibu yang juga duduk di depan. Ibu-ibu itu ternyata si istri pak sopir. Oh iya, sama seperti ongkos dari Lembar ke Cakranegara, ongkos dari Cakranegara ke Lembar Rp.10.000 saja.
Sama seperti orang-orang sebelumnya, melihat saya bawa “gembolan” segede-gede gaban, pak sopir sama bu sopir langsung nanya “Kamu dari mana? Mau kemana?” dan, as always, pertanyaan yang paling mematikan adalah… “kok sendirian?”. Tapi kali ini saya sudah kebal dengan pertanyaan itu, saya menjawab semua pertanyaan dengan santai dan penuh senyum. Sama seperti si bapak-bapak dan mbak-mbak tadi, si pak sopir dan bu sopir juga mengkhawatirkan apakah saya masih bisa dapat boat ke Gili Trawangan? Dan sama juga seperti bapak-bapak tadi, si pak sopir juga menawari saya untuk manginap di rumahnya kalau saya ketinggalan boat. Tawaran itu di-iya-kan oleh si ibu sopir, bahkan si ibu sopir menguatkan tawaran itu dengan bilang kalau di rumahnya banyak anak muda. Jadi saya bisa ngobrol-ngobrol dengan mereka. Ya ampun, benar-benar orang Lombok ramah sekali ya…
Seharusnya saya naik angkutan hanya sampai di Pemenang saja. Dari Pemenang saya harus naik ojeg (ongkos ojeg Rp.2000) menuju pelabuhan Bangsal. Tapi mungkin karena si pak sopir kasihan sama saya, saya tidak disuruh turun di Pemenang, tapi saya diantar sampai ke pelabuhan Bangsal. Alhamdulilah…
Gili Trawangan, I’m Comin’…
Sampai di pelabuhan bangsal kita bisa langsung membeli tiket boat ke Gili Trawangan. Harganya cukup murah, hanya Rp.10.000/orang untuk sekali jalan (one way). Dan saya pun langsung membelinya. Tapi ada satu catatan, jika traveler’s sampai di pelabuhan Bangsal sudah agak larut (seperti saya, jam 5 sore-an), hati-hatilah pada para calo yang bilang kalau sudah tidak ada boat lagi yang akan ke Gili Trawangan. Biasanya dia akan menawarkan tiket private boat dengan harga jauh diatas harga public boat. Padahal tiket yang mereka jual itu ya sama saja dengan tiket public boat.
Anyway, di kursi penumpang hanya ada 2 orang local, saya dan seorang bapak-bapak. And… as always, si bapak-bapak itu tanya pada saya (sekali lagi harus saya tulis, “Kamu dari mana? Mau kemana? Kok sendirian?”. Setelah saya menjawab semua pertanyaan si bapak, saya bertanya balik ke beliau “ngapain ke Gili Trawangan?”. Ternyata si bapak itu sedang mengantar dua orang bule dari Austria. Saya lalu berkenalan dengan kedua itu. And, you know, mereka surprise banget waktu tahu kalau nama saya Vina, karena nama saya sama seperti ibukota negara mereka, Vienna.
Setelah ngobrol sebentar dengan dua bule Austria itu saya lalu ngobrol dengan si bapak-bapak guide. Saya tanya-tanya ke beliau tentang Gili Trawangan, terutama tentang penginapan murah yang ada disana. Yah, tahu lah, saya jalan-jalan kan on budget banget… hehehe… Si bapak menyarankan saya untuk mencari penginapan yang agak masuk ke dalam-dalam gang, jangan yang terlalu dekat dengan pantai. Menurut beliau harga penginapannya akan lebih murah.
Sesampainya di Gili Trawangan bapak itu tidak bisa mengantar saya mencari penginapan karena ia harus menemani dua bule Austria menuju penginapan mereka. Tapi ada satu kenalan si bapak yang akhirnya menemani saya mencari penginapan. Setelah keluar masuk beberapa penginapan akhirnya saya menemukan satu penginapan yang masih available dan sesuai dengan budget saya, maklum lah saat saya ke Gili Trawangan sedang high season, jadi agak susah menemukan penginapan yang masih available dengan harga yang masuk akal.
Nama penginapan saya “Rumah Hantu”. What??? Yes, seriously, namanya itu. Letaknya memang agak masuk ke dalam-dalam gang sih. Tapi lumayan lah, tempatnya asri dan bersih, walaupun memang air untuk mandi berasa agak asin. Rate per malam untuk penginapan ini Rp.100.000 with breakfast. Tapi karena budget saya untuk penginapan di bawah Rp.100.000, maka saya coba nawar penginapan itu. Dapet deh Rp.80.000, but without breakfast.

Kategori:Kehidupanku
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: