Beranda > Backpacking yuk mari > Eksotisme Madakaripura dan Kemegahan Bromo

Eksotisme Madakaripura dan Kemegahan Bromo


“BROMO..BROMO..BROMO..” Itu yang terus ada di kepala saya saat saya memutuskan untuk pergi kesana. Ya. Saya dan beberapa rekan backpacker memutuskan untuk mengunjungi gunung Bromo pada akhir bulan tahun 2011 yang lalu.

The Journey Begins
kami mencari mobil sewaan yang mau mengantar kami menuju Bromo. Setelah mobil kami dapatkan, seakan sudah tidak sabar, kami langsung menuju tempat tujuan kami. Sepanjang jalan saya merasa takjub dengan perubahan yang terjadi pada Kota Surabaya. Maklum saja, sewaktu kecil dulu saya pernah menetap di kota ini. Jadi bisa dibilang, perjalanan kami ke Bromo dengan melewati Kota Surabaya adalah perjalanan napak tilas bagi saya pribadi.

Mobil kami masih melaju dengan kecepatan tinggi, setinggi harapan kami untuk secepatnya melihat gunung Bromo. Selepas dari kota Surabaya, disisi kiri jalan kami melihat tumpukan tanah yang meninggi dengan batu-batu sebagai pondasinya. Akhirnya kami baru menyadari bahwa kami sedang melewati jalan yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi sangat terkenal di media massa. Kami melewati Jalan Raya Porong, Sidoarjo yang terkenal dengan luapan lumpurnya. Ingin hati untuk berhenti dan melihat suasana di atas sana, namun menurut sopir mobil sewaan kami belum boleh masuk karena hari masih pagi. Akhirnya kami hanya bisa melihat tanggul-tanggul penahan luapan lumpur yang telah menyengsarakan ribuan orang tersebut.

Selepas dari Kabupaten Sidoarjo, kami memasuki Kota Pasuruan. Di kota ini kami berhenti sejenak untuk mengisi perut yang sedari pagi sudah memita untuk diisi. Lalu kami berhenti di sebuah rumah makan kecil berlabel Nasi Punel. Saya sedikit bertanya-tanya, jenis makanan apa nasi punel. Karena seingat saya, selama saya tinggal di Surabaya belum pernah saya mendengar ataupun memakan nasi punel.

Ternyata nasi Punel tidak jauh berbeda dengan nasi campur atau nasi rames, dengan daging empal sebagai menu utamanya. Nasi yang dibungkus daun pisang ini terasa sangat nikmat. Tidak salah kalau presenter Wisata Kuliner, Bondan Winarno pernah datang ke rumah makan kecil ini. Hal tersebut terlihat dari foto-foto Bondan yang menempel di dinding rumah makan tersebut. Selepas mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Probolinggo. Tak disangka perjalanan dari Pasuruan menuju Probolinggo memakan waktu hampir 2 jam. Waktu tersebut kami manfaatkan dengan beristirahat karena memang kami cukup lelah.

Perennial Waterfall

Memasuki Kabupaten Probolinggo, kami tidak langsung menuju penginapan yang sudah kami booking sebelumnya. Dari pertigaan Sukapura, kami membelokkan mobil ke arah kanan menuju air terjun Madakaripura. Jalan yang kami lalui menanjak dan berbelok. Di ujung jalan itu kami memasuki gerbang wisata air terjun Madakaripura. Tempat ini oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai tempat terakhir Patih Gajah Mada bertapa sebelum akhirnya menghilang entah kemana. Mitos tersebut dilengkapi dengan patung Gajah Mada yang sedang duduk bersila memperlihatkan keperkasaannya.

Dengan ditemani oleh dua guide kami berjalan memasuki hutan untuk menuju air terjun Madakaripura. Sekitar 15 menit berjalan akhirnya kami sampai pada air terjun Madakaripura yang juga mempunyai julukan Air Terjun Abadi (perennial waterfall). Sungguh takjub saya melihat air terjun ini. Perpaduan antara kontur bukit dan air yang turun membuat kami semua enggan untuk beranjak. Namun memang ada sedikit kekurangan. Airnya tidak jernih, bahkan terlihat kecoklatan. Menurut guide kami, sehari sebelumnya di area ini terjadi hujan besar yang mengakibatkan air terlihat keruh. Namun hal tersebut tak menyurutkan kami yang tetap takjub dengan keindahan alam ini.

Satu jam kami habiskan di sana sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Ngadisari tempat penginapan kami. Sekitar pukul 13.00 kami tiba di penginapan. Walaupun hari masih siang, udara dingin sangat menusuk tulang. Di penginapan kami menghabiskan waktu dengan bercengkrama dan beristirahat. Karena dini hari kami harus sudah bangun untuk menuju gunung Bromo.

10.10.10 at Bromo Mountain

Pukul 02.00 dini hari kami sudah bersiap-siap untuk menuju Penajakan, tempat dimana kami dapat melihat sunrise di gunung Bromo pada titik yang paling tertinggi. Dua buah jeep yang disediakan oleh pihak penginapan mengantarkan kami tepat pukul 03.00. Sekitar 40 menit kami melalui jalan padang pasir yang gelap, dan juga tanjakan dengan tikungan yang tajam. Sesampainya di Penanjakan rupanya sudah banyak wisatawan yang juga ingin menyaksikan sunrise, karena di sini pukul 05.00 matahari sudah terbit.

Tidak jarang saya melihat wisatawan asing yang juga berkunjung ke gunung Bromo. Ketika matahari terbit, lantas puluhan atau bahkan ratusan blitz kamera menyala. Semua ingin mengabadikan momen tersebut. Sunrise di Bromo kali ini terasa istimewa karena kami berada di gunung Bromo bertepat pada tanggal 10 Oktober 2010 (10-10-10) tanggal langka yang hanya terjadi sekali seumur hidup.

Sekitar pukul 06.00 kami kembali menuju jeep yang akan mengantarkan kami menuju kawah gunung Bromo. Sesampainya disana kami disuguhi pemandangan padang pasir yang luas dengan berlatar belakang pura dan gunung Bromo. Kami pun menaiki gunung Bromo menuju kawahnya yang mengeluarkan asap putih tebal. Butuh usaha ekstra bagi kami menaiki gunung tersebut. Bukan karena tingginya gunung tersebut, melainkan stamina kami yang sudah banyak terkuras. Namun usaha kami menaiki gunung Bromo terbayar lunas ketika sudah sampai di atas. Kawah yang terlihat jelas, dan kebulan asap putih yang tebal, beserta pemandangan yang indah membuat siapapun akan takjub terkesima. Pukul 09.00 kami sudah kembali ke jeep,karena kami harus mengejar kereta yang akan menuju Jakarta pada sore harinya.

Sesampainya di penginapan, kami langsung bergegas membereskan barang-barang kami dan langsung menuju Surabaya pada pukul 10.30. disepanjang perjalanan pulang kami lebih sering tidur karena memang stamina kami yang sudah habis.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: