Beranda > Backpacking yuk mari > Jakarta Punya Jalan Jaksa : 400 Meter Untuk Seluruh Dunia

Jakarta Punya Jalan Jaksa : 400 Meter Untuk Seluruh Dunia


Hari ini pukul 8 pagi, Jakarta telah ramai dengan kesibukannya. Wilayah Sudirman – Thamrin sebagai pusat kegiatan bisnis Ibukota pun telah memulai perputaran uangnya. Namun, coba lihat sebuah jalan yang mendunia, jalan sepi yang padat ketika matahari tergelincir, Jalan Jaksa namanya.

Bangkok punya Khao San Road. Bali punya Jalan Kuta. Jakarta tidak akan pernah mau kalah, ada pula yang namanya Jalan Jaksa. Na¬mun, ehem, mungkin pernyataan dari seorang blogger asing berikut agak membuat dagu kita menunduk: “On Khao San, you can’t escape the neon signs and seizure-induc¬ing strobe lights. On Jalan Jaksa, all they have is one sad looking banner spelling out the name of the street in sagging and half burnt-out Christmas lights. On Khao San, everyone drinks like it’s New Year’s. On Jalan Jaksa, everyone drinks because if they stop drinking, they’ll remember they’re on Jalan Jaksa.” Haha. Agak menggelikan.

Tapi, sudahlah, mungkin penulisnya orang Jerman yang hobi mabuk. Kita bu¬kan bangsa pemabuk, bukan? Jalan Jaksa terletak tepat di jantung kota, dekat dengan pusat perbelanjaan Sarinah. Cukup berjalan kaki lima menit dari Stasiun Gondangdia. Juga tidak jauh dari Stasiun Gambir, salah satu stasiun terbesar di Indonesia. Bertetangga dengan Pusat Jajanan Jakarta: Jalan Sabang.

Apabila kita menelusuri Jalan Jaksa, kita tidak akan menemui banyak perbedaan dengan jalan-jalan lainnya, terutama di siang hari. Kecuali, kita akan sesekali berpapasan dengan ‘bule’ di trotoar dan melihat beberapa dari mereka sedang asyik membaca Jakarta Post dan meminum secangkir kopi di dalam kafe sepanjang Jalan Jaksa.

Selain di Jalan Sabang, Jalan Jaksa sendiri juga memberikan banyak pilihan makanan, mulai dari mi instan rebus dan nasi uduk dengan harga Rp5 ribu sampai rumah makan yang harganya berkisar Rp15-25 ribu. Harga yang sangat masuk akal dan terjangkau. Apalagi untuk sebuah daerah yang menjadi kawasan wisatawan mancanegara (wisman).

Sebuah gedung yang lebih mirip rumah dengan bilboard besar bertu¬liskan “Media of Tourism’s” bisa menjadi sumber informasi bagi seluruh wisman. Gedung tersebut ada berkat kerja sama empat perusahaan wisata. Segala jenis informasi wisata ada di situ. Penerbangan domestik dan paket dari Travel Agent bisa deal di tempat itu juga. Telepon umum dan warnet pastinya juga ada. Standar tarif warnet di Jalan Jaksa adalah Rp10 ribu per jam.

Jaksa Cinthiya Book menjadi salah satu ciri khas Jalan Sabang. Walau tidak semegah Gramedia, tapi mungkin koleksi buku dari Inggris, Belanda, Jerman, Swedia, dan banyak negara lain lebih lengkap dari koleksi Gramedia Matraman sekalipun. Beberapa buku yang tampak, yaitu The Fight Club karya Chuck Palahuik, Love in The Time of Cholera karya Gabriel Garcia Marquetz. Mudah menemukan buku-buku berbahasa selain Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Uniknya lagi, buku yang dibeli di toko ini bisa dijual kembali dengan harga 50% dari pembelian. Barter buku merupakan hal yang wajar di sini.

Sejarah Jalan Jaksa

Disebut Jalan Jaksa karena jalan tersebut adalah tempat tinggal siswa-siswa sekolah hukum (Rechts Hogeschool) pada masa ko lonial. Namun, kisah Jalan Jaksa yang sebenarnya dimulai pada tahun 1968. Seorang pria bernama Nathanael Lawalata yang menjabat sebagai Sekjen Indonesia Youth Hostel Association membangun beberapa kamar di rumah yang mereka tinggali untuk disewakan. Hostel itu adalah penginapan per¬tama yang berdiri di Jalan Jaksa, namanya Wisma Delima.

Tamu pertama dari Wisma Delima adalah sepasang backpacker yang mengetahui tempat tersebut dari database International Youth Hostel Association. Padahal pada saat itu Wisma Delima masih dalam tahap pembangunan dan belum ada ka¬mar yang siap untuk menampung mereka. Tapi kedua backpacker tersebut berkata bahwa mereka hanya butuh lantai untuk tidur. Itulah kisah awal dari jalan Jaksa yang kita kenal sampai saat ini.

Kisah Backpacker di Jalan Jaksa

Backpacking’ mencoba mendalami opini seorang wisman yang sedang bertempat di Jalan Jaksa. Gadis berkebangsaan Jerman itu berna¬ma Katrina. Suatu hari dia melaku¬kan sebuah perjalanan ke Kuba dan bertemu dengan seorang pria dari Spanyol bernama Ruben. Mereka pun berjanji untuk melakukan perjalanan bersama mengelilingi Asia Tenggara suatu hari nanti. Petualangan dimulai. Saat Backpackin’ menemui mereka, pada awal 2010 kemarin, telah empat bu¬lan mereka melintasi negara-nega¬ra anggota ASEAN. Laos, Vietnam, dan Thailand telah mereka jelajahi. Hari itu mereka baru saja tiba di Jakarta dari Phuket.

Tak langsung memutari jalan Jaksa untuk mencari tempat menginap, dengan memanggul ransel besar di punggungnya, mereka mencari tempat duduk di kafe untuk makan. Katrina menunggu selama Ruben mencari penginapan.

Sebenarnya tidak sulit untuk mencari penginapan yang murah di tempat itu, hanya berjalan sepuluh sampai lima belas menit pun kita sudah dapat menemukan beberapa tempat yang menyediakan kamar. Tapi entah kenapa Ruben selalu keluar dari penginapan dengan muka kecewa. Menurut mereka penginapan tidak terlalu bagus. Sebagai contoh di Laos dan Vietnam, dengan 8 Euro (setara dengan Rp100 ribu), kami menda¬pat kamar dengan fasilitas yang bagus dan tempat yang bersih. Sedangkan disini dengan harga yang sama, kamarnya tidak terlalu nyaman karena kotor dan tidak pu¬nya fasilitas yang memadai seperti lemari pakaian

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: