Beranda > Backpacking yuk mari > Menulusuri Pedalaman Banten

Menulusuri Pedalaman Banten


Suku Baduy

Rumah Tradisional

Suku Baduy

Agak misterius, Baduy tidak ada dalam buku Lonely Planet Indonesia. Padahal, orang Indonesia mana yang tidak pernah mendengar Baduy? Rupanya belakangan saya baru tahu bahwa Warga Negara Asing memang tidak diperbolehkan masuk wilayah Baduy Dalam. Mayoritas konsumen Lonely Planet adalah wisatawan asing, jadi wajar saja kalau Baduy tidak dibahas.

Matahari awal Mei 2010 belum gagah menyinari stasiun Tanah Abang, tapi 16 orang rombongan kami yang belum saling mengenal sudah siap memegang tiket kereta Patas menuju Rangkasbitung. Tepat pukul 7.41, kereta bergegas. Sedikit saja penumpang yang terlihat berdiri.

Belum genap dua jam, kereta sudah sampai. Pepi, pemandu kami, sudah menunggu di stasiun. Ahim, ketua rombongan kami, yang menghubunginya. Ahim cukup menghubungi Pepi untuk mengurusi seluruhnya, termasuk transportasi dan tempat menginap. Seorang supir Elf yang dibawa Pepi tidak banyak kata waktu menyupiri kami menuju Ciboleger selama 1,5 jam.

Sebelumnya, untuk perbekalan dan sekaligus oleh-oleh, kami membeli ikan asin dan beras di Pasar Brata, dekat stasiun Rangkas. Satu liter beras di sini dijual Rp4.500, katanya sih, berasnya lain dari yang biasa, ini beras kampung. Setengah kilogram ikan asin dibandrol Rp10.000. Dengar-dengar, orang Baduy suka sekali dengan ikan asin, jadi pantas untuk dijadikan oleh-oleh buat mereka yang nanti kami tempati rumahnya untuk bermalam.

Pukul 12 siang kami sudah sampai di Ciboleger. Tampak semacam tugu patung sekeluarga petani yang sepertinya dijadikan icon Ciboleger. Walau sudah lumutan di sana sini, tapi tulisan di bawahnya masih terbaca, “Selamat Datang di Ciboleger”.

Sampai di Ciboleger, rombongan istirahat, makan, dan sholat. Ada masjid yang cukup besar di dekat tempat kami istirahat. Terdapat beberapa pilihan tempat makan dengan bermacam menu yang ditawarkan, tapi sayangnya harga makanan mahal. Nasi, sayur asem, dan telur dibandrol Rp10.000.

Baduy Luar
Pukul 1 siang kami lanjutkan perjalanan, tracking ke Baduy Luar. Baru mendaki tangga sekitar 100 meter, kami mendapati perbatasan antara Ciboleger dan Baduy Luar. Semua tamu diharuskan registrasi terlebih dahulu. Seorang pemuda gempal dengan lincah memainkan komputernya, mengetik data diri kami, dan mencetak bukti pembayaran dari kami. Saya pikir, Baduy sepenuhnya melepaskan diri dari teknologi, tapi rupanya ada segelintir warga yang memang harus mengerti teknologi karena tuntutan dari pemerintah untuk urusan administrasi.

Tidak sulit tracking menuju perkampungan Baduy Luar. Di saat mendaki, sudah banyak batu-batu besar, sepertinya jenis batu kali, yang sengaja dibalut masuk ke dalam tanah sehingga memudahkan pijakan kaki. Cuaca sedang berpihak pada kami. Sebuah kampung langsung kami temui. Seluruh rumahnya terbuat dari kayu-kayuan. Pasak-pasak yang menjuntai vertikal tidak langsung berpijak pada tanah, tapi ada batu -sejenis batu kali atau batu koral- yang menghubungkan pasak tersebut dengan tanah. Metode yang dipakai penduduk Baduy ini memang jauh lebih tahan gempa dibanding bangunan beton seperti yang banyak ada di kota.

Atap rumah terbuat dari daun-daunan kering yang harus diganti setiap sepuluh tahun sekali. Apa mereka tidak takut terbakar waktu musim kemarau ya? Konstruksi dan bahan rumah tersebut tidak berbeda jauh dengan leuit, tempat penduduk Baduy menyimpan cadangan beras/padi. Hanya saja, leuit lebih pendek dan lebih ramping.

Sebuah bambu panjang melintang di tengah perjalanan. Ah, inilah rahasia orang Baduy bisa tahan jalan berkilo-kilo tanpa membawa minum. Lubang-lubang di bagian atasnya memungkinkan tangan untuk masuk dan menciduk air yang mengalir di dalam bambu. Airnya tidak keruh. Saya coba masukkan air ke botol air mineral, saya perhatikan, terlihat beberapa lumut yang melayang-layang. Tapi nyatanya tidak ada dari rombongan yang mengeluh mulas.

Dalam perjalanan, sebuah jembatan bambu membuat kami berdecak kagum. Bermacam bambu besar dan kecil disambung dengan ijuk pohon enau yang dihimpun menjadi sebuah jembatan hebat, tanpa paku! Terdapat pegangan di kanan dan kiri jembatan. Tumpuannya tersebar ke banyak titik yang menyatu kembali di pohon besar pada ujung-ujung jembatan.

Setelah satu setengah jam berjalan, sampailah kami di Kampung Cikakal, tempat menginap malam ini. Sebetulnya, perjalanan bisa lebih cepat kalau tidak sering istirahat dan jalannya tidak lambat. Rombongan kami sebelumnya tidak ada yang pernah jalan ke Baduy dan hanya beberapa saja yang biasa mendaki gunung, jadilah banyak istirahat selama perjalanan. Beras dan lauk dikumpulkan lalu meminta tolong pemilik rumah memasakkan makan malam dan makan pagi besok untuk kami.

Sore harinya kami menuju sungai untuk mandi. Penduduk Baduy selalu mandi ke sungai. Tidak boleh ada kamar mandi di Baduy. Kalau masih di Baduy Luar, tidak ada pantangan untuk menggunakan sabun atau shampoo, berbeda dengan ketegasan di Baduy dalam.

Sempat sebelumnya, saya dan beberapa teman duduk-duduk di atas sungai, tiba-tiba ada teriakan dalam bahasa Sunda yang kurang lebih artinya, “Aaaa… jangan turun, jangan turun.” Kami malah justru jadi tahu bahwa di bawah sana ada gadis-gadis yang sedang mandi, hehe. Daripada kenapa-kenapa, kami lebih baik kembali ke tempat menginap sajalah.

Selepas Magrib, kami langsung makan hasil masakan Ibu pemilik rumah. Tidak ada aktivitas di malam hari. Biasanya warga lokal Baduy hanya bercengkrama dengan sesama keluarganya atau tetangganya. Kami ngobrol-ngobrol di teras rumah –walau tidak bisa saling melihat karena minimnya cahaya- sampai tidak tahu mau menertawakan apa lagi.

Baduy Dalam
Setelah sarapan, sebelum pukul tujuh, kami sudah beranjak menuju Kampung Cibeo, salah satu kampung di Baduy Dalam. Dengan berjalan biasa saja, butuh satu setengah jam. Track cukup mudah, tidak ada tanjakan atau turunan yang sangat curam. Hanya saja jarang ditemukan jalan datar. Beberapa kali rombongan terpeleset, memang jalan agak licin karena semalam hujan lumayan lama.

Batas antara Baduy Luar dan Baduy Dalam adalah sebuah jembatan bambu, seperti yang kemarin ditemui. Tepat setelah jembatan itu, ada tanjakan yang paling melelahkan sepanjang sekitar setengah kilometer. Beberapa kali kami menemui orang Baduy. Mereka sudah terbiasa jalan berkilo-kilo tanpa alas kaki. Hanya senyuman yang mereka lempar, tanpa sepatah katapun.

Sesampainya di Cibeo, beberapa warga yang ada di sekitar tempat kami beristirahat menyambut kami. Salah seorang di antaranya memberi kami minum. Gelas yang ia bawa terbuat dari batang bambu berdiameter sekitar 10cm. Sudah aturannya, tidak boleh ada gelas yang terbuat dari “bahan-bahan modern”. Saya cukup kaget melihat semacam teko yang mereka pakai. Saya kenal botol besar itu, mirip botol asam klorida pekat ukuran 5 liter di laboratorium waktu kuliah dulu. Persis sekali.

Perkampungan Cibeo tidak jauh berbeda dengan perkampungan di Baduy Luar. Bahan dan konstruksi bangunan rumah sama, tapi terlihat lebih tidak teratur. Saya hanya bisa membedakan Baduy Luar dan Baduy Dalam dari pakaiannya saja. Kalau Baduy Dalam selalu memakai ikat kepala putih, baju hitam atau putih, dan semacam rok berwarna gelap berlurik. Kalau ikat kepalanya tidak putih, bajunya bukan berwarna hitam atau putih, dan atau memakai celana, bisa dipastikan dia adalah Baduy Luar. Mereka selalu membawa semacam tas kecil yang diselempangkan. Saya pernah bertanya pada seorang Baduy Dalam, “Apa isinya?” Dia jawab, pakaian yang sewaktu-waktu bisa menjadi pakian ganti mereka.

Hanya setengah jam kami berada di Baduy Dalam karena harus mengejar kereta terakhir dari Rangkas pukul 15.54. Kami pamit, lalu beranjak menuju Ciboleger untuk selanjutnya menuju Jakarta kembali. Kalau dihitung-hitung, hari ini kami total jalan kaki selama enam jam dengan rute Cikakal-Cibeo-Ciboleger. Prediksi saya itu semua berjarak 10 kilometer.

Lepas dari benar atau salah dari sudut pandang ini dan itu, jelas komunitas Baduy dengan kesadarannya menolak teknologi modern. Tidak sama dengan definisi tertinggal yang identik dengan tidak mampu mengejar teknologi kekinian. Mereka mempunyai prinsip yang kuat untuk mempertahankan sudut pandangnya sendiri.
Seperti yang dipaparkan dalam sebuah video di Yotube, warga Baduy menolak pendidikan, bahkan ketika pemerintah mau memberikannya secara gratis dengan membangun sarana prasarana pendukung, mereka tetap menolak. Jawabannya cukup sederhana tapi mendalam, “Kalau kami pintar, kami jadi bisa menipu orang.”

Pengeluaran:
Kereta Patas Tanah Abang-Rangkasbitung PP Rp8.000
Carter Elf Rangkas-Ciboleger PP Rp500.000:16 orang = Rp32.000
Pemandu Rp400.000:16 orang = Rp25.000
Administrasi masuk Baduy dan uang daftar ke Jaro Dainah = Rp3.000
Sumbangan penginapan Rp10.000
Makan 2x Rp20.000
Total Rp98.000

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: