Beranda > Backpacking yuk mari > Seribu Eksotika Kepulauan Seribu

Seribu Eksotika Kepulauan Seribu


Tak bisa kupejamkan mata ketika membayang­kan hari esok. Tubuhku kembali membalik arah, dari sisi kanan ke sisi kiri. Tengkurap, lalu terlen­tang lagi. Suara sangat kecil dalam tubuhku ber­kata, “Terpejam.. terpejam..” Namun bayangan akan serunya hari esok sangat persuasif. Kute­gakkan tubuhku, dan melihat kedua temanku te­lah terlelap di kasur berbeda. Mereka menginap di rumahku, mungkin tak sabar juga menunggu.

Esok adalah saatnya perjalan­an pertamaku ke Kabupaten Kepulauan Seribu yang terletak di Provinsi DKI Jakarta. Rasa deg-deg-an itu memuncak ketika menyadari bahwa baru kali ini aku mengikuti trip yang diadakan Backpacker Indonesia. Semoga mendapat banyak teman baru dan merasa­kan nikmatnya jalan-jalan bersama mereka, harapku.

Ah, siapa yang tidak pernah dengar tentang Kep­ulauan Seribu. Pesonanya sudah sampai hing­ga telinga orang mancanegara sana. Lagipula, siapa yang tidak suka pantai? Beruntunglah kita hidup di negeri yang tak melulu pegunungan.

Kepulauan Seribu mencakup daratan dan lautan, yang sekurang-kurangnya terdapat 110 pulau. Ber­dasarkan ensiklopedia yang kubaca, di tempat ini kita tidak hanya menemukan eksotika pantai, namun juga peninggalan sejarah seperti benteng di Pulau Onrust dan Pulau Kelor. Selain itu, terdapat beberapa titik snorkeling dan diving yang tidak kalah dengan tem­pat-tempat penyelaman kelas dunia. Jantungku mulai berdegup lebih kencang tanda tak sabar. Aku terlelap dengan bayangan laut berwarna biru muda dan pasir putih, persis seperti yang tergambar di ensiklopedia.

Esok harinya, aku dan kedua temanku berge­gas ke pelabuhan Muara Angke, tepatnya di pom bensin yang memang satu-satunya di tempat itu. Rencana berkumpul adalah pukul 06.45 WIB. Pe­nyelenggara trip mengecek satu per satu back­packer yang akan ikut. Ah, senangnya aku boleh menyandang gelar itu sekarang. Alasan pertama, karena aku memang membawa sebuah backpack. Alasan kedua, karena kami ingin berpetualang se­maksimal mungkin dengan biaya seminim mungkin.

Kami (saya dan beberapa kawan) memperguna­kan waktu untuk menunggu backpacker lain den­gan berkenalan satu sama lain. Aku berusaha semaksimal mungkin mengingat nama masing-masing, karena yang ikut kali ini mencapai 30 orang. Menurutku cukup banyak, mengingat trip kali ini hanya memakan waktu dua hari satu malam.

Tiba di pelabuhan, aku sedikit terpana dengan kapal yang akan kami naiki. Bukan, bukan kapal mewah. Memang ada dua tingkat, namun kapal itu layaknya kapal nelayan yang di atasnya ditambah geladak lagi. Ongkosnya Rp 30 ribu sekali jalan, berangkat tiap hari pukul 07.00 dan 13.00. Ternyata kapal su­dah hampir setengahnya terisi, banyak backpacker asing di geladak atas. Aku dan beberapa teman lain masuk ke geladak bawah. Kegiranganku mulai ter­lihat ketika menaiki kapal. Aku melompat dan men­erobos masuk, melangkahi beberapa ibu-ibu. Sa­dar akan perbuatanku, aku menunduk minta maaf.

Perjalanan kami diiringi cuaca yang pas, angin dan matahari pun sangat bersahabat. Perlahan kami men­jauh dari pelabuhan. Riak ombak menggiring kapal kami menjauh dari hiruk pikuk dan polusi kota Jakarta, menuju perairan lebih jernih dan tenang di utaranya.

Tujuan utama kami adalah Pulau Pramuka, yang adalah tempat administratif di Kepulauan Seribu. Pulau ini termasuk dalam kelurahan Pulau Pang­gang. Kami tiba kurang-lebih tiga jam kemudian. Ah, segarnya mataku dimanjakan oleh pantai ber­sih dan tak bersampah. Kontras sekali dengan pantai-pantai Jakarta. Pelajaran pertama, jika in­gin pergi ke pantai besih namun tak jauh dari ibu­kota, Anda dapat menceklis Kepulauan Seribu.

Air di tempat kami berlabuh tergolong dangkal, den­gan banyak ganggang hijau di dasarnya. Kesempa­tan pertama, kami berfoto ria. Belum apa-apa aku dan kedua temanku sudah kegirangan. Sesaat kemudian kami beranjak menuju homestay. Pulau Pramuka su­dah cukup maju, terbukti dengan adanya gedung-ge­dung sekolah dan pemerintahan. Luas pulau ini seki­tar 9 hektar, dan menampung kurang-lebih 1000 jiwa. Masjid dengan mudah ditemukan di pulau tersebut.

Aku dan kawan-kawan berjalan menyusuri pantai dan perumahan penduduk sana. Mayoritas pen­duduk pulau Pramuka adalah dari Bugis, Tangerang, dan Jakarta. Seiring perjalanan, para penduduk seperti “menonton” kami. Mungkin karena kami ribut dan asyik mengomentari pulau itu. Pulau ini layaknya desa maju, rumah penduduknya pun ban­yak yang sudah memadai. Mungkin karena may­oritas mata pencaharian mereka adalah nelayan.

Homestay tempat kami menginap terletak cu­kup jauh dari pantai, kurang lebih 1 kilometer. Na­manya Tiga Bersaudara. Memang hanya ada tiga kamar di homestay ini, namun lengkap dengan kamar mandi dan ruang tamu. Homestay itu ter­letak di tengah pemukiman penduduk, namun tetap menyajikan tempat yang bersih dan nyaman. Satu kamar bertarif Rp 350 ribu per malam, dan kami menyewa ketiga kamar itu untuk menginap.

Kami memosisikan diri masing-masing senyaman mungkin. Beristirahat, mengobrol, dan makan siang bersama. Ada beberapa tempat makan di pulau Pramuka. Menunya tidak beragam, memang. Tak apalah, yang penting perut ini terisi dan siap menu­ju acara selanjutnya. Menu makan siangku ada­lah nasi goreng dan es teh manis, total Rp 10 ribu.

Pukul 12.30 adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Ya, untuk pertama kalinya aku akan melakukan snor­keling. Senang, tak sabar, sekaligus takut. Kami mencoba memakai peralatan snorkeling masing-masing. Biaya menyewa alat yaitu Rp 35 ribu seha­rian, termasuk safety jacket dan kaki katak. Seka­dar tips, memilih kaki katak harus benar-benar sesuai dengan ukuran kaki kita agar tidak menyu­litkan kita bergerak dalam air. Untuk mencapai titik penyelaman, dibutuhkan sewa kapal. Sewa kapal berkisar Rp 300.000 per harinya, sehingga masing-masing orang cukup patungan Rp. 10 ribu saja.

Sebelum ber-snorkeling-ria, kami menyempat­kan diri melihat penangkaran elang di Pulau Ko­tok. Pulau Kotok merupakan salah satu pulau yang vegetasinya masih asli. Selain menjadi tem­pat penangkaran elang, dermaga pulau tersebut juga kerap digunakan untuk berlatih snorkeling. Elang yang dikonservasi di sini adalah elang Bon­dol yang menjadi maskot provinsi DKI Jakarta.

Masing-masing membayar Rp 5 ribu untuk penjaga pulau. Itu pun plus jasanya menjadi guide pulau tersebut. Puas berkeliling, berfoto dan melihat elang (bahkan biawak), kami bergegas melaksanakan ‘ritual’ satu ini. Seorang guide dengan kaos bertulis­kan “PASKIBRAKA” di belakangnya memandu kami perlahan. Jamal—begitu ia dipanggil—menunjukkan cara kerja masing-masing alat snorkeling. Kami pa­tungan masing-masing Rp 10 ribu untuk menyewa 6 orang guide. Aku yang berjilbab, merasa aneh memakai maskernya. Kacanya tidak menempel pas di wajahku. Biarlah, lepas saja sesekali, pikirku.

Latihan snorkeling dilakukan di dermaga pu­lau Kotok yang permukaannya dangkal. Bukan dalam artian selutut atau pinggang tentunya, setidaknya cukup untuk kami mengambang. Oya, tak usah takut tenggelam karena safety jacket se­tia menemani asal kita mengikatnya dengan kuat.

Titik selam pertama yaitu sekitar pulau Semak Daun. Pulau ini termasuk gugusan utara Kepulauan Seri­bu. Pulau Semak Daun sudah tersohor di mata turis karena keindahan pantainya. Pasir putih dan per­mukaannya yang cenderung dangkal memudahkan kita untuk bermain di pantai. Plus, bebas bulu babi.

Kami terjun ke laut dengan gaya masing-masing, ada yang turun tangga, ada pula yang langsung melompat ke dalam air. Melompatnya pun penuh gaya, tak lupa mewanti-wanti orang yang meme­gang kamera untuk mengabadikan pose mereka.

Tibalah saatku masuk ke air. Lewat tangga tentunya, terlihat sekali masih amatir. Itu pun menunggu giliran te­man-temanku yang juga newbie. Pertama kal­inya melihat ke bawah permukaan air… aku merinding. Bukan kar­ena dingin, tapi karena tepat di bawah kakiku terhampar hutan ko­ral berwarna-warni, dikelilingi oleh ikan-ikan yang menari di atasnya. Seperti balerina.

Mengutip dari situs google, pulau-pulau di Kepu­lauan Seribu umumnya dikelilingi oleh terumbu karang tepian (fringing reefs) dengan kedalaman 0,5 – 5 m yang juga merupakan habitat bagi ber­bagai jenis biota laut. Jenis-jenis karang yang da­pat ditemukan termasuk kedalam jenis karang keras (hard coral) seperti karang batu (massive coral), karang meja (table coral), karang kipas (gorgon­ion), karang daun (leaf coral), karang jamur (mush­room coral) dan jenis karang lunak (soft coral).

Total terdapat 54 jenis koral,baik keras mau­pun lunak. Selain itu ada 144 jenis ikan, 2 jenis kima (kerang berukuran besar penghuni perairan laut hangat), 3 kelompok ganggang seperti Rho­dophyta, Chlorophyta dan Phaeophyta, 6 jenis rumput laut seperti Halodule sp., Halophila sp., dan Enhalus sp., serta 17 jenis burung pantai.

Waktu serasa tak berharga pada saat aku melakukan snorkeling untuk pertama kalinya. Kami berenang tanpa melihat waktu, mengikuti guide menyusuri hutan koral, bertemu beberapa jenis ikan bahkan ubur-ubur kecil. Sempat aku bertanya pada sang guide, “Ubur-ubur ini menyengat?” ia jawab tidak. Jariku mulai meraba ubur-ubur mungil itu, dan waktu seakan terhenti di sana. Inilah aku sekarang, di ten­gah hutan koral dengan berbagai ikan, memegang ubur-ubur yang menggeliat di tanganku. Aku takjub.

Berhasil melewati tantangan snorkeling pertama, kami sangat merasa tertantang untuk tempat snor­keling kedua: Pulau Air. Sebenarnya banyak bulu babi di sekitar pulau ini, sehingga bisa menggang­gu para penyelam. Namun terdapat satu titik di mana terumbu karangnya masih asli dan terawat.

Di perjalanan, aku takjub pada sebuah pulau ke­cil (sangat kecil, sekitar 9 meter persegi). Tak ada apa pun di pulau itu selain pasir putih. Ingin ras­anya menggapai pulau itu. Duduk di atasnya dite­mani sebatang pohon kelapa seperti di film-film. Ah, khayalan saja. Tapi, mungkin Kepulauan Seribu tak genap jadinya bila tak ada pulau mungil satu ini.

Sudah sore hari ketika kami tiba di titik penyelaman ke dua. Karena maskerku yang agak kebesaran, mataku beberapa kali kemasukan air laut. Cukup pe­dih ternyata. Aku jadi membayangkan anak-anak ke­cil yang sering menyelam tanpa menggunakan per­alatan apa pun. Di tengah snorkeling, salah seorang temanku menunjukkan satu spesies aneh bin ajaib.

“Namanya bulu seribu,” tegasnya. Bulu Seribu (nama asingnya Crown of Thorn) masih satu spe­sies dengan bintang laut. Bentuknya tak jelas, sep­erti amoeba. Warnanya sangat mencolok, yaitu merah-biru dengan banyak duri berwarna putih. Indah, namun beracun. Jamal bilang, sekali kena durinya dua minggu kita tidak berhenti demam.

Kami mengakhiri snorkeling hari ini dengan melihat sun­set. Bayangkan rasanya, mengambang di tengah lau­tan, hanya memandang matahari terbenam tepat di de­pan mata kita! Aku takjub untuk yang kesekian kalinya.

Masih di sekitar pulau Air, terdapat beberapa pulau kecil tak berpenghuni. Beberapa pulau ini memben­tuk selat, yang airnya berwarna hijau muda terang. Orang sekitar menyebutnya “kolam renang”. Rupanya titik ini adalah tempat orang berlatih jetski. Warnanya kontras dengan hijaunya Cemara yang banyak tumbuh di pulau-pulau sekitarnya. Sungguh indah.

Pukul 18.30 kami tiba di pu­lau Pramuka. Kami member­sihkan diri, tak lupa menunggu giliran mandi. Beberapa orang sedang memper­siapkan acara ramah tamah. Aku dan be­berapa teman keluar homestay untuk mencari ma­kan malam. Aku menghabiskan sekitar Rp 15 ribu untuk satu porsi soto ayam+nasi dan es teh manis. Kami melakukan acara ramah tamah, yang dimu­lai dengan perkenalan masing-masing orang. Ra­mah tamah diakhiri dengan acara ‘bakar-bakar’ ikan tuna, yang dilanjutkan dengan acara tidur pulas.

Agenda dimulai lebih awal keesokan harinya. Pu­kul 05.00, kami sudah bergegas ke salah satu sisi pulau Pramuka untuk melihat sunrise. Pagi hari di pulau Pramuka sungguh menyenangkan. Dingin, namun tersentuh cahaya matahari yang perlahan mulai memoles sang pulau. Warga, terutama nelayan, tengah melakukan aktivitas mas­ing-masing. Kami melewati perumahan penduduk di sisi lain pulau itu yang juga sama ramahnya.

Tiba di pantai, sayangnya pada saat itu sunrise tak terlihat jelas. Namun kami tetap mengobrol, ber­main pasir, bahkan bernyanyi menikmati suasana pantai pagi hari. Ombak tergolong kecil, sangat nya­man untuk bermain air yang juga terasa hangat. Beberapa kumang tampak malu-malu muncul dan berlari kecil menjauh dari kami. “Jangan jual kami, jangan jual kami!” itu mungkin maksudnya. Akhirnya tujuan kami bergeser, dari melihat sunrise men­jadi obrolan dan keramaian pagi hari di tepi pantai.

Kembali ke homestay, saatnya bersiap untuk keliling pulau Pramuka. Nasi kuning dan lauk pauk telah tersedia sebagai penghasil tenaga pagi itu. Pukul 08.30, kami memulai perjalan­an keliling pulau administratif tersebut. Pers­inggahan pertama adalah penangkaran penyu adalah satu bangunan dengan beberapa ruang di dalamnya, yang masing-masing berisi kolam den­gan penyu berbagai ukuran. Penyu yang dikem­bangbiakkan di sini adalah penyu sisik, salah satu spesies penyu yang hampir punah. Selain itu, ada pula penangkaran kupu-kupu. Tempat penang­karan kupu-kupu berupa kubah berbentuk huruf L, yang dapat menampung sebanyak 150-250 ekor.

Pukul 12.00, kami mulai packing dan beranjak ke pelabuhan. Kapal yang sama telah menung­gu kami. Pelabuhan Muara Angke akan kem­bali kami jajaki sekitar pukul 15.00. Saatnya kembali ke kota dengan polusi dan kebisin­gannya. Saatnya kembali ke realitas, batinku.

Jumlah pulau di Kepulauan Seribu mungkin tidak ‘seheboh’ namanya, namun kepulauan ini me­nyajikan seribu eksotika dan pengalaman. Su­lit sekali rasanya meninggalkan pulau ini, tak rela meninggalkan keindahannya. Aku menaiki kapal sambil bersyukur karena Indonesia memilikinya

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: