Beranda > Backpacking yuk mari > This Is Time Backpacking Yogyakarta

This Is Time Backpacking Yogyakarta


Hasrat ingin menikmati suasana Jogja sungguh tak terbendung lagi. Kali ini aku menuju kawasan yang sering disebut sebagai ikonnya Jogja, Malioboro. Belum ke Jogja jika belum mengunjungi Malioboro.

Petualangan dimulai dari tempat persinggahanku di Ring Road Utara, Condong Catur. Siang yang terik dan perut yang mulai lapar memaksa aku melangkahkan kaki ke sebuag kedai disana. Warung makan Sari Eco, namanya. Warung ini didominasi dengan warna hijau. Tadinya kupikir ada menu yang khas Jogja namun setelah melihat menu, tak ada menu yang mewakili kuliner kota ini.

Satu kuliner yang membuatku rasanya tak mungkin ditemukan di daerah lain (mungkin, sok tau, hehehe…..) yakni Nasi Goreng Magelangan+telor+babat. Rupanya nasi goreng ini agak unik. Nasi digoreng dan dicampur dengan mie yang dipotong kecil-kecil, kemudian ditambah telur ayam yang diorek, dan irisan babat. Rasanya memang gurih, dan ada sensasi kenyal-kenyal ketika menggigit babat. Untuk minumannya aku memilih es kelapa. Es ini diracik dengan sirup rasa stroberi yang sedikit ada sensasi tertusuk-tusuk di lidah, dan kelapa muda yang segar.

Aku menuju kepada sebuah Halte Trans Jogja, cukup membayar Rp. 3.000,- kita menggunakan Trans Jogja (mirip Busway Trans Jakarta) untuk keliling Kota Jogja. Selisih waktu antara bus satu dengan bus berikutnya sekitar 15-20 menit. Dan kita tak akan diberi tiket kertas ketika akan menggunakan jasa bus ini, melainkan dengan sebuah kartu (seperti kartu ATM) kemudian kartu ini dimasukan kedalam sebuah mesin dan dibaca sensor, kemudian pintu akan terbuka dan kita pun bisa masuk kedalam halte. Bicara soal Trans Jogja memang aku sangat kagum. Jalurnya sudah terintegrasi dengan moda transportasi massal lainnya. Halte dibangun di terminal, stasiun kereta, dan bandara. Bahkan menyatukan kawasan-kawasan terkenal di Jogja dan tempat wisata, seperti Malioboro, Alun-alun dan Keraton, juga Prambanan. Selain itu petugas atau pramugara akan mengatur penumpang Trans Jogja, dimana orang tua (apalagi itu wanita) akan diprioritaskan duduk, dan untuk yang berdiri akan diatur supaya dapat pegangan satu orang satu pegangan, jadi tidak boleh satu orang dua pegangan sedangkan orang lain tak kebagian. Pramugara juga akan menjawab setiap pertanyaan penumpang dengan ramah jika penumpang bingung bagaimana menuju tempat tujuannya, harus transit di halte mana juga akan menjawab dengan lengkap.

Dari Ring Road Utara aku naik Trans Jogja jalur 3B, transit di Halte Bandara Adi Sucipto. Kemudian melanjutkan dengan Jalur 1A menuju Malioboro. Namun karena hari itu adalah libur akhir pekan dan juga musim liburan, jalur menuju Malioboro macet total sehingga bus dialihkan ke halte lainnya yang lebih dekat dengan Malioboro. Para penumpang diturunkan disebuah halte yang aku pun waktu itu tak hafal betul halte tersebut. Karena hari semakin sore aku melanjutkan dengan naikbecak ojek. Ini adalah becak namun telah dimodifikasi dengan mesin kendaraan bermotor, sehingga si abang becak tak akan letih mengayuh becaknya.

Seperti yang diceritakan diatas, jalur Malioboro dari Tugu Jogja sudah macet, aku turun di Jl. Mataram, tepatnya di belakang Mall Malioboro. Wisata belanja atau Jogjajan alias Jogja-jajan dimulai….!! Malioboro sore itu tampak penuh dengan para traveller, mulai dari lokal hingga bule pun ada, mulai dari yang muda sampai yang udah berumur.

Pertama aku mengunjungi sebuah toko. Toko tersebut menjual berbagai barang-barang yang menjual kaos dengan corak ikon-ikon Jogja, batik, blangkon, hingga pernak-pernik. Aku membeli kaos putih pertuliskan Jogja. Soal harga, standar seperti membeli kaos yang lain, Rp. 50.000,- keluar dari kocekku.

Perjalanan dilanjutkan kearah selatan. Disepanjang jalan aku melihat transportasi kota ini yang mungkin tak dijumpai di kota lain, seperti andong, dan becak. Memang tradisional sekali alat transportasi ini. Sepanjang pengamatanku andong dan becak ini market-nya bukan orang biasa melainkan para traveller. Ini terbukti ketika pada andong dan becak yang menawari aku untuk diantar ketempat-tempat tujuan wisata sekitar kawasan itu. Bicara soal transportasi di Jogja rupanya tak ada angkot. Pilihannya hanya bus kecil, atau yang sering disebut bus jalur. Ada yang unik soal transportasi. Ketika aku ingin ke toilet, dan kebetulan ada toilet umum disekitar gubuk kecil yang juga dimanfaatkan sebagi area parkir sepeda motor. Jika akan memarkirkan motornya, para pengguna tinggal meninggalkan motor tersebut tanpa di kunci ganda. Nanti petugas parkir akan menyusun motor tersebut dan ketika akan menggukan kembali motor tersebut maka sang pemilik tinggal menyebutkan ciri-ciri motornya atau nomor polisinya makan sang petugas akan mengeluarkan motor tersebut.

Kaki terus melangkah sambil menikmati kawasan belanja ini. Aku temui dua seniman atau pengamen di kawasan itu. Mereka satu tim, seperti anak band.Menyanyikan tembang yang sedang populer. Namun mereka tidak akan meminta uang receh kepada orang-orang, melainkan hanya menyediakan kotak yang siap menampung receh yang dilempar dari para pejalan.

Sampai juga di Pasar Beringharjo, di Jl. Ahmad Yani. Pasar ini merupakan pasar batik di kota ini. Memang belanja fashion sudah, tapi apa salahnya menengok sedikit suasanya pasar tersebut. Pasar ini memang bersih, jauh dari becek. Dan kios-kiosnya tertata rapih. Semua kios menjual aneka batik, mulai dari kain batik, baju batik, hingga kaos bermotif batik, dari yang untuk balita hingga yang telah berusia lanjut juga ada.

Keluar dari pasar tersebut dari sebuah pintu yang tak umum, aku melihat seorang nenek sedang membakar sesuatu di atas arang. Dari visualnya ini mirip sekali kikil atau kulit sapi. Tapi setelah bertanya kepada sang nenek ternyata dugaanku salah. Ini adalah sate sendang lamur sapi. Sendang lamur adalah sejenis daging yang berada diantara tulang dan sendi. Karena sang nenek ini hanya menjual sate tersebut tanpa nasi maka aku memesannya untuk dibungkus, 10 tusuk hanya Rp. 15.000,- saja.

Aku kembali melanjutkan langkah. Tiba di depan Benteng Vredeburg dan Gedung Agung. Aku membeli nasi pecel dan membuka bungkusan sate sedang lamur itu. Sensasi kenyal dari sate itu sungguh menggoyang lidah. Rasa manis dari bumbu kecapnya pas, walaupun tadi sebenarnya sate tersebut tak ada saus kecap atau saus kacangnya.

Setalah perut terisi, aku melangkahkan kembali di sepanjang Jl. Ahmad Yani hingga Jl. Koni, didekat Alun-alun Utara Jogja. Disepanjang jalan aku menjumpai para penjual yang menjajakan barangnya. Yang dijual unik-unik, ada cendera mata seperti gelang yang berwarna-warni, permen gulali, bunga kertas, topeng, blangkon, souvenir hiasan wayang, sendal batik, dan lain-lain.

Selain itu aku juga mencicipi (ups..!! perutnya masih muat) Soto Ayam Khas Jogjadengan bihun, irisan kol dan tahunya dengan siraman kaldu yang hangat. Dan terakhir aku menikmati kuliner khas Jogja, gudeg. Gudeg terbuat dari irisan buah nangka muda yang dimasak sekitar sehari-semalam. Seperti masakan Jawa (Jogja) lainya, ada sedikit rasa manis pada makanan tersebut. Untuk minumannya aku memilih es cendol dengan camcau dan durian. Nikmat dan lembut

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: