Beranda > Backpacking yuk mari > Pulau Sempu Kau Memang Mempesona

Pulau Sempu Kau Memang Mempesona


Bibir Pantai Sempu

Eksotis Bro

Segara Anakan

Indah Bukan Tempatnya

Dimabuk Asmara Dua Sejoli

Bagus Tempatnya

Asik Brad

Tahu Tidak Ini Baru Surganya Para Dewa

Landscape

Dilihat Dari Kejauhan

Pasir Putihnya

Menarik Sekali Tempat Ini

Pemandangan Luar biasa

Arah Malang

YA, PULAU SELUAS 877 hektar di selatan
pulau Jawa ini memiliki keindahan dan keragaman flora fauna yang terlalu kaya untuk sekedar dinikmati sebagai tempat wisata semata. Terlebih dengan perilaku wisatawan kebanyakan yang abai menjaga keutuhan alam. Lebih dari itu, pulau ini selayaknya menjadi tempat untuk penelitian dan ilmu pengetahuan, seperti diamanatkan dalam SK. GB No. 46 Stbl. 1928 No. 69 tahun 1928. Bahkan sejak Indonesia belum merdeka, pulau ini sudah mendapat pengakuan akan kekayaan hayatinya. Namun ada baiknya terlebih dulu mengurus surat izin masuk kawasan konservasi (SIMaKSI) cagar alam Pulau Sempu yang bisa diperoleh di tiga tempat yaitu : 1. Jl.Bandara Juanda Surabaya.2. Bidang KSDa Wilayah III, di Jl.Jawa No.36
Jember.3. Seksi Konservasi Wilayah VI, di Jl.Mastrip No.88 Probolinggo.Di Sendang Biru, pantai terdekat menuju Pulau Sempu, memang ada Resort Konservasi Wilayah Pulau Sempu, namun fungsinya hanya sebatas pos penjagaan, bukan pos perijinan, jadi tidak dapat mengurus SIMaKSI disini. Namun sebelum menyeberang, kita perlu lapor sambil membawa SIMaKSI ke pos ini.

Awal Perjalanan
Pulau Sempu berlokasi di Kabupaten Malang, tepatnya di Dusun Sendang Biru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbar Manjing Wetan. Menuju kesini paling mudah adalah dengan jalur Malang – Turen – Sendang Biru – Sempu. Dari Malang hingga Sendang Biru dapat ditempuh dengan kendaraan umum. Sampai di Sendang Biru, sudah terhampar kapal-kapal nelayan yang siap disewa untuk mengangkut kita ke Pulau Sempu. Belum sampai mulut menguap, bahkan mungkin belum sempat kita duduk berlama-lama dikapal, tiba-tiba kita akan disuruh turun ditengah-tengah laut, tepatnya sekitar 50 meter dari teluk Semut, sebelah barat Pulau Sempu. Kapal tidak dapatmerapat, kapten! Kita harus mencebur diri hingga kira-kira sepinggang, tergantung tinggi badan kita tentunya. Kemudian berjalan semenit, sampailah kita di Sempu! Ketika sampai di bibir pantai Pulau Sempu, ekosistem hutan pantai sedang berjejer manis dihadapan kita. Seandainya mereka bisa bergerak seperti manusia, barangkali mereka sudah melakukan tarian ritual penyambut tamu. Tapi untungnya mereka tidak bisa. Menuju Segara Anakan Danau Segara anakan menjadi tujuan kebanyakan pengunjung. Setidaknya ada dua tempat lain yang memiliki nama serupa. Segara anakan di Cilacap (Nusa Kambangan) dan Segara anak di kawasan Gunung Rinjani, Lombok. Danau Segara anakan yang di Sempu ini, konon banyak yang bilang serupa atau bahkan lebih indah daripada Phi Phi Island di Thailand, tempat Leonardo Dicaprio syuting The Beach. ah, terserah mau dibilang mirip siapa, yang jelas tempat ini memang luar biasa indah. Dari bibir pantai, berjalan masuk semakin dalam, jalur berlumpur langsung
terhidang. Siap-siap saja beli sandal baru sepulang dari sini. Kalau cuaca buruk, jarang ada sandal yang selamat sampai tujuan, sekalipun sandal gunung merek beken.Sepatu lebih aman, tapi juga akan berubah
warna jadi coklat lumpur. Siap-siap nyuci!Tapi jalurnya jelas. Pandai-pandailah mengatur waktu kunjungan kesini. Kalau
cuaca sedang cerah, perjalanan tidak akan terlalu sulit. Yang paling penting kalau mau kesini adalah : bawa air banyak-banyak! apalagi kalau niat mau kemping disini, karena danau Segara anak bukan danau air tawar.
Dalam kurun waktu sejam hingga satu setengah jam, kita akan tiba di Danau Segara anakan. Sampai disini umumnya kita terserang amnesia ringan, lupa dengan jalur panjang dan melelahkan yang baru saja kita lalui. Capek? Sudah lupa tuh!Di antara karang-karang itu, ada lubang tempat masuknya air dari laut lepas. Tempat kamu berdiri merupakan hamparan pasir putih yang masih sangat bersih. Itulah Segara anakan! Danau air asin ini terbentuk karena ada karang-karang yang melingkar tersebut. air dari laut yang masuk ke dalamnya melalui lubang (Karang Bolong), terjebak di dalam ‘lingkaran’ karang-karang tersebut sehingga membentuk danau dengan air yang tenang

Menuju Ke Sendang Biru
1. Malang – Turen (45 km)
Bus dari terminal Hamid Rusdi, jurusan Malang – Dampit – Lumajang-Turen.Harga Rp 4.000,00
2. Turen – Sendang Biru (45 km)
angkutan kota jurusan Turen – Sumbermajingwetan – Sendang Biru.Harga Rp 12.000,00

Menuju Ke Sempu
Sendang Biru – Pulau Sempu (0,8 km)
Kapal nelayan, sampai Teluk Semut kemudian lanjut trekking. Harga Rp 100.000 (pp), bisa menampung 10-12 orang.

Tiket Masuk
1. Tiket masuk Sendang Biru
Rp 5.500,00
2. Tiket masuk Pulau Sempu
Rp 20.000,00

Sewa kapal
Rp 100.000,00
2. Sewa porter
Rp 150.000,00
3. Sewa guide
Rp 100.000,00

SEMPU TIDAK ADA dalam rencana kami. Mendengar namanya pun belum pernah. Tujuan kami ke Malang ini adalah untuk ke Bromo. Kami pergi berempat.Kami dari Surabaya naik bus menuju Malang. Di Malang kami mampir ke rumah Budhe saya di daerah Dinoyo. Disinilah kata Sempu pertama kali terdengar dari mulut Budhe saya. ‘Ini nih dia abis dari Sempu (sambil menunjuk saudara saya). Bagus tuh. Adanya di selatan, deket kok dari sini tinggal turun kebawah aja.”Katanya juga Pulau Sempu itu sebenernya cagar alam, tempat biasa TNI latihan. Wah, ada ya tempat kayak gitu. Dari cerita dia, sepertinya mudah sekali mencapai Sempu. Tak ada salahnya kesana. Maka setelah dari Bromo, kami naik bus menuju Sendang Biru. Sebelumnya kami bertanya dulu ke sang kenek, apakah bus ini lewat Sendang Biru. “Oh ya, lewat dek, lewat, ayo naik, naik cepetan!” Beberapa jam kemudian kami diturunkan. Katanya tinggal jalan lurus. Namun setelah jauh kami berjalan tak ada tandatanda yang menunjukkan kami di Sendang Biru. Kami mulai merasa aneh. Sampai akhirnya kami bertemu petugas Koramil lalu bertanya sambil kasih lihat peta.“Pak, kita mau kesini, namanya Sendang Biru,” “Kalau di deket sini adanya Banyu Biru.” “Hah?! Ini, Pak, Sendang Biru yang ada di selatan sini lho.” “Lah ini kalian ada di utara.” (sambil menunjuk peta) HAH!! Jauh gila!! Ini mah kita udah salah arah dari awal! Akhirnya kami oper-oper bus, hari semakin gelap. Lalu kami dioper ke mobil bak terbuka yang kebetulan lewat.Kemudian salah satu bapak mengajak kami bicara, “Kalian mau kemana?” “Sendang Biru, pak.” Dia diam sejenak, “hmm, kalian menginap di rumah saya aja kalau begitu.” Namanya Pak Slamet. Kami diajak makan, kemudian dibawa kerumahnya. Rumahnya di dekat pasar Turen. Pagi-pagi kami bangun. Setelah ngobrol dengan Pak Slamet, kamipun pamit dan berangkat menuju Sendang Biru. Sampai disana sekitar jam 2 siang. Setelah tanyatanya informasi tentang kapal dan segala macamnya, tiba-tiba ada yang menyahut, “kalau mau nyebrang harus ada ijin dari Dinas Kehutanan, mas.” Waduh, apa pula itu! Kamipun ke pos penjagaan, ditanya macam-macam oleh polisi hutan, untung orangnya baik dan ramah. Polisi hutan.
itu sekali lagi bilang kalau mau ke Sempu harus ada surat ijin karena Sempu termasuk kawasan cagar alam, masih banyak binatang buas disana. Saya ingat betul polisi itu menyebut macan. Macan dan buaya. Akhirnya kami dibantu dicarikan
nelayan yang mau mengantar kami menyebrang. Setelah menyebrang, kami berenang sedikit untuk mencapai bibir pulau Sempu. Plang besar ‘Cagar Alam Pulau Sempu,’ pun terlihat. Kata si nelayan tinggal jalan lurus aja. Oke, dimulailah petualangan kami di Pulau Sempu. Banyak binatang ajaib yang kami lihat.
Pertama teman saya melihat burung besar terbang di atas kita. Lalu setelah masuk sedikit, Khemal melihat monyet hitam besar. Saya juga lihat burung besar, namanya burung Rangkok, sama Elang Jawa juga. Tapi kami tidak bahas itu selama disana dan terus jalan masuk. Semakin masuk kedalam, kami mendengar suara aneh. “Oakk.. Oakk..” Suaranya kencang dan seperti dekat dengan kami! Tidak terbayang apakah ini suara monyet, atau burung, atau apa. Perasaan saya mulai tidak enak, langkah kami perlambat. Saya coba cek suara apa itu sebenarnya. Saya dan temen satunya maju perlahan, sedang teman yang lain menunggu. Saat inilah saya dengar suara yang lebih menakutkan lagi, “Rrrr…” Langsung saya diam! Oak oak nya masih ada. Kemudian sekali lagi, “Rrrr…” Tiba-tiba Kawan saya berbisik setengah
teriak, “Dit! Dit!! Ada Macan!!!” Sedangkan muka temenku sudah pucat pasi
Saya dan Akbar kaget. Lalu tanpa instruksi kami mundur pelan-pelan. Saya bilang ke teman-teman untuk tidak lari. Suara “rrr” itu masih terus mengiringi.Sudah semakin jauh kami mundur, lama-lama suara oak dan ‘Rrrr’ itu akhirnya menghilang. Kami terus mundur sampai kembali ke pantai tempat kami turun dari kapal. Disini kami bertemu tiga orang yang membawa celurit. Kami cukup tenang melihat ada yang megang senjata, karena kami tidak bawa apa-apa selain kamera dan tripod. kawan saya yang lain cerita tentang macan yang mereka lihat, saya ingat salah satu bapak jawab begini, “oh ada macan? Dimana? Gapapa, disini emang rumahnya, paling itu mau cari makan.” Datar banget ngomongnya! Bapak-bapak ini memang penduduk lokal Sendang Biru yang mau cari kayu bakar. Mereka tidak pernah lihat macan, tapi mereka tahu kalau di Sempu memang banyak macan. Kami kembali masuk ditemani bapak-bapak itu. Kemudian belum sampai
Segara Anakan, mereka pamit memisahkan diri dari kami. Mereka keluar jalur, belok ke kiri, entah kemana, kami ditinggal begitu saja. Kami sudah cukup tenang. Perjalanan pun kami lanjutkan.
Kami terus maju kedepan sampai akhirnya kami melihat semacam danau, jauh di depan. Langkah kami percepat hingga menyentuh pasir putih. Ah, ini dia Segara Anakan!Puas main-main, foto-foto, lompatlompat, selanjutnya kami naik ke karang dan berjumpa dengan Samudra Hindia. Waaaaww.. Keren! Kami senang banget! Sampai juga kami kesini setelah banyak peristiwa yang kami alami. Fuhh..Beberapa puluh menit kami memuaskan diri disana. Lalu mengingat kami janjian dengan nelayan untuk kembali, maka bergegaslah kami kembali ke bibir pantai Sempu. Alhamdulillah tidak ada apaapa disepanjang perjalanan pulang kami. Sampai kembali ke bibir pulau, tak lama kemudian kapal nelayan yang mengantar kami datang, kembalilah kami ke Sendang Biru. Bertemu lagi dengan polisi hutan dan kami ceritakan pengalaman kami,
termasuk pertemuan kami dengan macan. Dikira akan heboh, ternyata mereka hanya tertawa-tawa mendengar cerita kami. Padahal waktu itu serasa mau mati rasanya! Huff.. Saya ingat satu kutipan yang bisa menggambarkan pengalaman tak terlupakan ini : It’s not about the destination, it’s about the journey! Bukan Sempunya yang luar biasa, namun perjalanan kami menuju dan selama disana, itulah yang luar biasa!

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: