Beranda > Backpacking yuk mari > Hobby Backpack

Hobby Backpack


Dieng biasanya dijadikan senjata andalan Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah. Jarangjarang ada satu lokasi yang punya banyak spot wisata begini.
SEMUA SPOT TERJADI secara alamiah, kecuali candi-candi yang dibangun sekitar abad ke-8, Dieng Theatre, dan Museum
Dieng Kailasa. Lokasi Dieng yang sudah ada di dataran tinggi saja sudah bisa jadi daya tarik. Rata-rata spot wisata Dieng ada di ketinggian 2.000 mdpl, yang jelas dingin.Dari sekian banyak spot wisata, ada beberapa jawara yang biasanya jadi rekomendasi orang-orang. Kalau ke Dieng ya harus ke situ, di antaranya Telaga Warna & Telaga Pengilon, Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Gunung Sikunir (2.263 mdpl), dan Dieng Theatre. Kesemuanya ini letaknya relatif
berdekatan, jadi bisa lah digarap semua dalam sehari.Candi di pelataran DiengSalah satu koleksi Museum Kaliasa
Banyak spot lain yang sebetulnya juga terhitung tempat wisata, cuma lebih jarang diomongin orang-orang, yaitu Telaga Merdada, Telaga Cebong, Kawah Sileri, Kawah Sinila, Kawah Candradimuka, Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Dwarawati, Candi Setyaki, Candi Sembrada, Gua Semar, Gua Sumur, Gua Jaran,
dan mata air Sungai Serayu (Tuk Bima Lukar).Kalau mau tambahan, masih ada Gunung Pakuwaja (2.395 mdpl), Gunung
Prahu (2.565 mdpl), Telaga Dringo, Telaga Nila, Kawah Timbang, Kawah Sibanteng, Kawah Siglagah, dan Kawah Sikendang.
Segitu banyak spot jelas tidak bisa digarap dalam sehari. Semuanya itu punya rentang yang lumayan lebar, sekitar 15 km
dari ujung ke ujung, itupun bukan dalam satu garis lurus. Ada yang musti masuk ke dalam beberapa kilometer.Itu baru di Dieng, sebelum menuju Dieng sebetulnya ada beberapa spot lagi yang jarang orang ke sana. Di Garung (kecamatan
terakhir sebelum Dieng), ada Telaga Menjer. Juga ada kebun Teh Tambi. Kebun teh Tambi punya pintu masuk di pinggir jalan, sehingga lebih mudah menemukannya dibanding Telaga Menjer yang harus masuk sekitar 3 km dari
jalan utama Wonosobo-Dieng.Mulai Garung sampai Dieng (sekitar 12 km) jalannya sudah aspal bagus dan punya
karakter khas jalan pegunungan, naik turun dan berkelok-kelok. Di kanan kiri jalan, mudah ditemukan tanaman sayur-mayur, terutama kentang.
Dieng mencakup wilayah yang cukup besar, tapi buat supir mikrobis, definisi Dieng adalah sebuah pertigaan besar pusat kehidupan Dieng. Di sana banyak homestay, tempat makan, swalayan, dsb.Rata-rata ketinggian tempat wisata
di Dieng di atas 2.000 mdpl. Karena itulah terkadang muncul embun berbentuk butiran es di waktu pagi, biasanya disebut bunpas. Buat wisatawan, fenomena ini unik, tapi buat penduduk lokal yang mayoritas petani sayuran, ini bencana karena bisa bikin tanaman rusak. Bunpas itu artinya embun racun.Ada beberapa pos pintu masuk ke area wisata. Anehnya tiap pintu masuk punya harga tiket yang beda, ada yang Rp 6.000, ada yang Rp 12.000. Tiket yang harganya Rp 12.000 itu untuk masuk ke empat spot utama: Telaga Warna & Pengilon, Candi Arjuna,
Kawah Sikidang, dan Dieng Plateu Theatre. Sedangkan tiket yang Rp 6.000 hanya untuk masuk ke dua tempat. Petugas penjaga loket punya info yang padat tentang rute, sejarah singkat, juga tempat menginap yang murah.Pada pertengahan 2011, sempat marak berita di banyak media massa bahkan sampai milis, tentang status Siaga Dieng. Kalau mendengar beritanya memang tidak enak didengar. Malah dikabarkan sampai tikus-tikus mati segala. Gambarannya seakanakan Dieng tidak layak dikunjungi.Padahal tidak separah itu. Kawah Timbang, yang jadi pusat pemberitaan itu, letaknya jauh dari tempat-tempat wisata yang dikunjugi. Kalau dihitung dari pusat wisata Dieng (Telaga Warna, Kawah Sikidang, dkk)
jaraknya belasan kilometer. Gara-gara berita ini wisatawan sempat drop.Beberapa minggu kemudian dibuatlah acara Dieng Culture Festival (DCF) II. Event ini membuat sedikit banyak orang sadar bahwa Dieng itu aman buat wisatawan. Nyatanya acara itu ramai tuh. Efek lanjutannya, paradigma bahwa Dieng itu bahaya jadi netral lagi.Tiga hari perhelatan DCF II baru selesai. Ada banyak acara di dalamnya, tapi yang sering dibicarakan orang adalah acara pamungkasnya, yaitu pemotongan rambut gimbal.
TELAGA WARNA DAN TELAGA PENGILON
Keduanya terletak berdempetan dan hanya terpisah sederet pohon cemara. Disebut Telaga Warna karena warnanya suka berubah, kadang biru, kadang hijau, kadang magenta.

DIENG ITU AMAN
BUAT WISATAWAN.

Telaga Pengilon tidak punya perubahan warna seperti yang terjadi di Telaga Warna, padahal keduanya hanya berjarak
beberapa meter.Terkadang, bau belerang tercium menyengat. Di beberapa tempat, terlihat pinggir telaga seperti air mendidih. Asap putih keluar, itulah sumber keluarnya bau belerang. Tapi karena udaranya terbuka, jadi relatif
tidak berbahaya. Di telaga, banyak itik yang berenang dan terkadang terbang di seputaran telaga.Kata orang lokal, memang disitulah habitat mereka

ORDINAT
Jalan setapak menghubungkan parkiran
dengan. Candi Arjuna dan beberapa candi lain
seperti Puntadewa, Semar, dan Sembrada.
KAWAH SIKIDANG
Banyak orang bilang kalau ke Dieng
ya harus ke Kawah Sikidang. Pamornya
sebelas dua belas lah sama Telaga Warna.
Sebetulnya area ini bahaya, banyak celahcelah kecil yang mengeluarkan gelembung
seperti air mendidih. Kalau diinjak bisa
melepuh. Tapi mau bagaimana lagi, Sikidang
sudah terlanjur indah, jadi tetap saja banyak
yang datang. Untungnya pemerintah situ juga
membuka daerah itu, tentu dengan warning di
sana-sini. Tinggal pintar-pintarnya pengunjung
jaga diri saja.
Bau belerang khas kawah aktif
biasanya menjadi keluhan wisatawan. Jangan
lama-lama di Sikidang karena bisa bahaya
buat kesehatan, selain juga, apa kuat? Bau
lumayan ternetralisir dengan masker. Di sana
banyak yang menjual masker, harganya tidak
lebih dari Rp 2.000.

KAWAH CANDRADIMUKA
DIAMBIL DARI NAMA
TEMPAT BERSATUNYA
BERBAGAI SENJATA
PUSAKA DENGAN TUBUH
GATOT KACA.

CANDI ARJUNA
Nama-nama candi di Dieng, termasuk Arjuna, diambil dari nama-nama dalam kisah Mahabarata. Juga Kawah Candradimuka yang diambil dari nama tempat bersatunya berbagai senjata pusaka dengan tubuh Gatot Kaca.Beberapa candi pendamping membuat candi utama dalam komplek Candi Arjuna semakin gagah. Di sekeliling komplek, tidak ada pohon besar sehingga Candi Arjuna bisa dilihat dari kejauhan dengan jelas.Motor tidak bisa masuk ke dalam komplek. Pengunjung biasanya meletakkan
kendaraannya di parkiran yang dikelilingi banyak tempat makan, lalu berjalan kaki ke komplek candi sekitar 200 meter.
Jalan setapak menghubungkan parkiran dengan. Candi Arjuna dan beberapa candi lain seperti Puntadewa, Semar, dan Sembrada.KAWAH SIKIDAN Banyak orang bilang kalau ke Dieng ya harus ke Kawah Sikidang. Pamornya sebelas dua belas lah sama Telaga Warna. Sebetulnya area ini bahaya, banyak celahcelah kecil yang mengeluarkan gelembung seperti air mendidih. Kalau diinjak bisa melepuh. Tapi mau bagaimana lagi, Sikidang sudah terlanjur indah, jadi tetap saja banyak
yang datang. Untungnya pemerintah situ juga membuka daerah itu, tentu dengan warning di sana-sini. Tinggal pintar-pintarnya pengunjung jaga diri saja.Bau belerang khas kawah aktif biasanya menjadi keluhan wisatawan. Jangan
lama-lama di Sikidang karena bisa bahaya buat kesehatan, selain juga, apa kuat? Bau lumayan ternetralisir dengan masker. Di sana banyak yang menjual masker, harganya tidak lebih dari Rp 2.000.

KAWAH CANDRADIMUKA
DIAMBIL DARI NAMA
TEMPAT BERSATUNYA
BERBAGAI SENJATA
PUSAKA DENGAN TUBUH
GATOT KACA.

Dalam bahawa Jawa, sikidang artinya kijang. Sifat letupan kawah ini mirip sifat kijang yang suka lompat lompat. Legenda panjang tentang sikidang mudah dijumpai di banyak artikel di internet.
GUNUNG SIKUNIR
Tempat yang ini butuh perjuangan lebih buat menggapainya. Selain tempatnya mencil (sekitar 4 km) dengan area wisata
utama. Jalannya pun bukan jalan yang mulus.Biasanya, orang ke Gunung Sikunir untuk mengejar sun rise. Jadi kebayang kan jam berapa harus bangun dan di jam segitu suhunya gimana. Mayoritas wisatawan kalau ke sana pakai jasa guide.
Sudah jauh, mesti pagi-pagi buta, bayar guide pula. Walaupun begitu, banyak yang merekomendasikan tempat ini. Tempat
terbaik di Dieng buat kejar sun rise ya di Sikunir ini. Kalau hoki, tidak terhalang awan, bisa jelas terlihat Gunung Sindoro.
DIENG THEATRE
Tempatnya lumayan enak. Kursinya total sekitar 40, tidak kalah lah sama kursi Bioskop 21. Layarnya juga proporsional. Durasi video sekitar 20 menit. Tempat ini bagus sekali buat yang mau tahu gambaran besar Dieng. Di video itu dijabarkan potensi alam Dieng, sosial kemasyarakatan, kejadian-kejadian heboh yang pernah ada di Dieng.

Sikunir, tempat favorit mengejar sunrise

Menurut video itu, terkadang kalau musim kemarau, embun yang biasa ada di tumbuh-tumbuhan waktu pagi itu bentuknya
es, bukan air. Video itu juga menjelaskan keunikan anak-anak Dieng yang berambut gimbal secara alami. Tidak semua anak Dieng

TEMPAT TERBAIK
BUAT KEJAR SUNRISE
YA DI SIKUNIR INI.

berambut gimbal. Mereka sendiri pun tidak tahu kenapa anak si anu gimbal, tapi anak si anu berambut lurus. Biasanya mereka buat upacara khusus, ada makan-makannya, lalu menggunting rambut gimbal si anak. Biasanya, setelah upacara itu, rambut mereka menjadi lurus.

JALAN PALING MUDAH dan umum menuju Dieng adalah dari Wonosobo. Dari kota Wonosobo tinggal naik sekali ke Dieng. Ada
jalur lain yang menantang dan jarang banget orang coba, yaitu dari Pekalongan. Yang ini lumayan melelahkan tapi pemandangannya seru

MENUJU WONOSOBO
Dari mana-mana ke Wonosobo cuma ada bus, tidak ada jalur kereta, tidak juga bandara.
Dari Jakarta:
Ada bus langsung dari Terminal Kampung Rambutan, Rawamangun, Lebak Bulus.
Tarif ekonomi
Rp 60.000 – Rp 65.000,
tarif AC
Rp 70.000 – Rp 75.000.
Dari Semarang:
Ada bus langsung dari Terminal Terboyo, tarif ekonomi Rp 15.000.
Dari Jogja:
Jogja-Magelang-Wonosobo.
Micro bus Jogja (Giwangan) – Magelang (Rp 12.000; 1 jam). Micro bus Magelang – Wonosobo (Rp 15.000; 2 jam)

MENUJU DIENG
Terminal besar Wonosobo (tempat busbus AKAP) menuju terminal micro bus jalur Wonosobo – Dieng.
Lanjut naik micro bus jurusan WonosoboGarung-Dieng-Batur turun di Dieng (Rp 7.000; 1 jam; 26 km)
JALUR ALTERNATIF
Pekalongan – Kali Bening – Wanayasa -Batur – Dieng.
Pekalongan-Kali Bening naik bus besar (Rp 20.000; 3 jam).
Kali Bening-Wanayasa naik mikro bus
(Rp 4.000).
Wanayasa-Batur naik pick up plat hitam (Rp 5.000).
Batur-Dieng naik mikro bus
(Rp 3.000)

WAKTU TERBAIK
Musim kemarau. Kalau musim hujan, susah ke manamana karena hujan terus dan banyak kabut yang ganggu pemandangan sun
rise di Gunung Sikunir. Lagipula, kalau musim hujan, jalan keliling Dieng sulit, walau pakai payung.

PENGINAPAN
* Losmen Arjuna atau Losmen
Cempaka; Rp 150.000 (hari biasa); Air hangat, 2 kasur besar, muat sampai 6 orang.
* Losmen Asri; Rp 25.000; muat untuk 2 orang

TIPS
* Bawa jaket tebal!
* Jangan cuma 1 hari di Dieng.
* Terkadang, ada losmen yang tidak menyediakan selimut, persiapkan untuk itu.

BEBERAPA AKTIVITAS PILIhAN
1. Tracking keliling Telaga Warna dan Pengilon.
2. Mancing di Telaga Cebong.
3. Wisata Budaya: Candi Arjuna, Candi Bima, Candi Gatotkaca, dll.
4. Nonton review Dieng di Dieng Theatre.
5. Melihat langsung anak-anak kecil berrambut gimbal alami.

KEJADIAN STATUS DAERAH Kawah
Timbang menjadi Siaga pada Juli 2011 lalu bukanlah yang pertama kalinya terjadi. Pada tahun 1979, kejadian serupa yang jauh lebih parah, juga terjadi di Kawah Timbang.Di suatu subuh, tiba-tiba Kawah Timbang mengeluarkan gas CO2 akibat terpicu letusan Sinila. Memang Kawah Timbang diketahui menyimpan CO2 berkonsentrasi tinggi yang itu jelas beracun buat manusia. Menurut Wikipedia, 149 jiwa melayang dan banyak ternak mati. Kejadian itu sangat tiba-tiba, tidak ada tanda apa-apa, tidak ada penaikan status menjadi Siaga, tidak ada pemberitahuan apapun.Ilustrasi kejadian ini tergambarkan
bagus dalam video 20 menit yang diputar di Dieng Theatre. Di situ digambarkan, warga berlarian malah justru ke tempat gas beracun. Mereka terjebak di dalamnya dan meninggal.Kawah Timbang dan Kawah Sinila letaknya jauh dari spot-spot wisata Dieng (lebih dari 10 km) yang biasa dikunjungi wisatawan. Jadi, ini seharusnya tidak berpengaruh pada industri pariwisata Dieng. Namun, terkadang wisatawan sudah enggan duluan karena menganggap bahwa keseluruhan Dieng berbahaya. Paradigma ini menyulitkan masyarakat Dieng yang hidupnya sudah tergantung dengan industri pariwisata.

Tidak Cukup Sehari
Harus rombak jadwal karena ternyata Dieng punya belasan situs.

KALI INI TUJUAN utamaku Dieng. Akhir Maret 2011, aku berangkat dari Surabaya lewat Magelang. Pagi itu, aku sarapan dengan Nasi Megono. Katanya sih, khas Wonosobo. Bagian yang paling unik dari Nasi Megono adalah campuran potongan sayur yang diaduk rata dengan nasinya.
Wonosobo-Dieng ternyata masih 2 jam lagi. Sampai di Dieng, aku berjalan menuju sebuah pos penjagaan. Seorang wanita
menyodorkan tiket terusan seharga Rp 12 ribu. Di tiket itu tertulis 4 kawasan wisata yang termasuk dalam harga tiket: Telaga Warna & Pangelon, Kompleks Candi Arjuna, Kawah Sikidang, dan Theater Dieng. Di balik tiket ada peta keempat
tempat itu, tapi tidak jelas patokannya apa, beloknya di mana, jaraknya berapa. Jadi, peta itu buatku cuma pemanis tiket saja.Menuju Telaga Warna, aku berjalan dari sebuah jalan becek yang ditunjuk oleh petugas pos. terakhir aku baru tahu bahwa itu bukanlah “jalan resmi”. Aku terus telusuri jalan melingkar itu sampai ketemu Telaga Pengilon, itu semua sampai keliling penuh makan sekitar 1 jam.

Telaga Warna baru terlihat kerennya kalau sudut pandang kita agak tinggi. Kalau cuma dari pinggirnya saja mah biasa banget. Banyak semacam didihan air di pinggir telaga, kelihatannya panas.Aku jalan terus, tiba-tiba aku tembus di pintu masuk telaga. Loh, berarti tadi aku lewat jalan belakang ya. Pantas kok jalannya agak aneh, sepi tidak terurus, ada kemenyankemenyan pula.Di dekat situ ada Teater Dieng. Perlu naik tangga yang lumayan tinggi dulu kalau lewat pintu masuk utama. Videonya singkat tapi padat informasi. Tempat duduknya enak, ruangan gelap, dingin, wah cocok buat tidur.
Setelah beres nonton video Dieng, aku mampir ke penjual kentang goreng yang mangkal persis di depan teater. Kentang
dan jamur termasuk makanan khas Dieng Sewadah kentang goreng yang besarnya sekitar ukuran medium di restoran fast food itu harganya Rp 5.000.
Aku jalan kaki ke arah Sikidang. Tapi karena dasar sok tahu, aku tidak tanya-tanya, walhasil nyasar.Aku lanjut jalan ke komplek Candi Arjuna. Karena tidak paham sejarahnya, jadi buatku terkesan biasa saja. Di dekat kompleks
Candi Arjuna ini ada beberapa candi lagi yang lebih kecil. Bangunannya ya begitu-begitu juga. Ada beberapa anak tangga yang menuju dalam candi. Hanya ada ruangan gelap tinggi sempit di dalamnya.Aku pulang, menginap di rumah saudaraku di daerah Garung (kecamatan tetangga Dieng). Di sini saja kalau tidur dinginnya sampai ke tulang, apalagi di Dieng Setelah Subuh, aku berjalan menuju Telaga Menjer. Dari pasar Garung sekitar 1 jam jalan kaki. Jalannya aspal tapi nanjak terus, jadi, yah lumayan pegal juga.Akhirnya sampai. Tapi mana telaganya? Dari pinggir halaman rumput, aku
tidak bisa melihat apa-apa ke bawah. Hanya ada sedikit bayangan pohon, selebihnya tertutup kabut. Satu-per-satu anak tangga aku turuni, makin lama makin jelas terlihat telaga besar yang tenang.Tangga paling bawah langsung
bersentuhan dengan telaga, tidak ada jalan ke mana-mana lagi. Ujungnya ya itu. Beberapa bebek kayuh tertambat di pinggir telaga, dihiasi dengan sampah-sampah plastik di sekelilingnya. Mereka menunggu majikan yang menyewanya, biasanya ramai pada hari libur (kata warga lokal), tapi menurut salah satu blogger yang pernah Minggu di sana, sepi juga tuh.
Bukit-bukit di sekeliling Telaga Menjer semakin jelas tampak seiring hilangnya kabut selimut Telaga Menjer. Tapi tetap tidak terlihat aktivitas. Bebek-bebek kayuh tetap diam walau sudah lama dirubung sampah. Air telaga tetap tidak beriak. Sekembalinya aku ke pintu telaga juga tetap tidak ada orang

Waktu liburanku habis, padahal masih banyak spot di Dieng yang belum disambangi. Padahal aku sudah tambah waktu
1 hari, tapi tetap saja banyak sisa spot yang belum tergapai.Aku pamit dari Wonosobo lalu mencari akses ke Pantura.

Kata lonely planet terbitan 2008, ada jalan yang menghubungkan Wonosobo dengan Pekalongan, yaitu lewat Batur. Bis Batur-Pekalongan ongkosnya Rp 12.000. Kemudian aku baru tahu bahwa informasi itu tidak valid. Tidak ada bus
langsung Batur-Pekalongan. Harus naik turun beberapa kali. Pertama Batur-Wanayasa naik pick up modif berplat hitam. Kedua Wanayasa-Kalibening naik mikrobis. Ketiga Kalibening-Pekalongan naik bis besar.

Tradisi Potong Gimbal

Jangan heran kalau sedang jalan-jalan ke Dieng lalu melihat bocah berambut gimbal keluyuran. Sebagian bocah di
Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, memiliki bakat berambut gimbal. Ini terjadi secara alamiah, tidak
ada keterangan medis yang dapat menjelaskannya.

PROSES PENGGIMBALAN TIDAK
terjadi begitu saja. Saat lahir, si anak gimbal punya rambut yang sama seperti anak lain. Rambut gimbal baru muncul pada usia balita. Umumnya diawali dengan gejala demam tinggi dan mengigau waktu tidur. Gejala ini tidak bisa diobati. Si anak akan sembuh dengan sendirinya, kemudian rambut mereka perlahan menjadi kusut dan menyatu sehingga terbentuklah gimbal dengan sempurna.
Mau dikeramas pakai sampo apapun, tetap saja menjadi gimbal. Bahkan, sekalipun sudah dipotong, gimbal akan kembali muncul
Menurut kepercayaan penduduk lokal, dan memang biasanya begitu, rambut gimbal tersebut tidak dapat hilang kecuali
diruwat. Dalam ruwatan tersebut, dilakukan pencukuran rambut dengan didoakan oleh sesepuh atau pemangku adat. Si anak menjadi raja sesaat, karena permintaanya harus dipenuhi, sesulit apapun itu. Kalau tidak, rambut gimbalnya tidak bisa hilang. Masyarakat lokal meyakini bocah gimbal itu merupakan titisan dari Kyai Kolodete yang dipercaya sebagai leluhur
dataran tinggi Dieng. Semasa hidupnya, Kolodete memiliki rambut gimbal. Konon ketika meninggal, beliau berpesan agar keturunannya membantu menghadapi gangguan rambut gimbal yang dirasa cukup mengganggu. Maka diwariskanlah rambut
gimbal ini ke anak cucunya.

Pada Dieng Culture Festival/DCF (1-3 Juli 2011) kemarin, ritual ruwat pencukuran rambut gimbal dilakukan. Ini
merupakan tahun kedua penyelenggaraan DCF. Pada tahun pertama, acara ruwatan cukur rambut gimbal juga dijadikan sebagai menu utama festival.Sebenarnya ruwatan itu sendiri bisa dilakukan kapan saja. Namun sekalian meningkatkan pariwisata Dieng, maka dibuatlah DCF. Acara ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Melalui DCF, panitia membantu orangtua mengabulkan permintaan sang anak gimbal.Tentu bukan hanya ruwatan yang ada dalam DCF, tapi juga ada bermacam tarian dari warga setempat dan napak tilas ke beberapa tempat wisata Dieng. Ruwatan adalah acara terakhir yang ditunggu-tunggu wisatawan.
Prosesi
Kirab (arak-arakan) menandai dimulainya proses ruwatan. Titik mulainya adalah rumah sesepuh pemangku adat, sampai ujungnya di Sendang Sedayu (utara Darmasala Kompleks Candi Arjuna). Kirab diramaikan dengan beragam pentas seni dari penduduk sekitar, ada tarian, barongsai, dll. Anak gembel dimandikan (jamasan) sesampainya di Sedayu.Puncaknya adalah pencukuran rambut gembel di Kompleks Candi Arjuna yang dipandu langsung oleh pemangku adat. Tak jauh dari sini, dilakukan ngalap berkah, berupa perebutan tumpeng dan makanan. Penduduk lokal percaya bahwa orang yang mengikutinya akan mendapat berkah.Prosesi ruwat ditutup dengan melarung rambut gembel ke Sungai Serayu yang akan mengantar rambut gembel ini ke Laut Selatan.

Tahun ini, total ada 7 bocah gimbal
yang diruwat. Inilah mereka:
1. Saibatul Asmiah. Permintaan : sepeda warna ungu.
2. Maroah. Permintaan : anting emas satu gram, baju muslim, dan sandal.
3. Nurseli Selina. Permintaan : ikan asin dan pindang dua keranjang.
4. Fajar. Permintaan : kambing brengos dan tempe kemul 100 biji.
5. Dewi anjani. Permintaan : telur ayam 600 butir, tahu matang 500 buah, dan tempe matang 600 buah.
6. Mutoharoh. Permintaan : tempe mentah 500 buah.
7. Naisila. Permintaan : minyak rambut, bola bekel, karet, dan boneka.

Selain ketujuh bocah ini, masih banyak anak gimbal lain yang belum dicukur. Ada di antara mereka yang cukup popular, namanya Rizi. Dia bahkan juga dikenal dengan sebutan sang pangeran gimbal. Sosoknya mudah dikenali, bocah tengil dengan rambut gimbal panjang, itulah dia. Rizi sudah sangat terbiasa dengan rambut gimbalnya, dan sampai sekarang masih belum bersedia dicukur. Namun rasanya sulit juga meruwat bocah yang satu ini, lantaran Rizi punya permintaan yang ajaib: Reog Ponorogo dari tahun yang kuno, dan Barongsai. Nah lo

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: