Beranda > Gaya Hidup > Shopping Bagian Dari Life Style

Shopping Bagian Dari Life Style




Setiap ada moment besar yang sakral pasti ada dua kepentingan yang bermain di sana. Setiap kubu memiliki tujuan khusus. Ambillah contoh menjelang datangnya Lebaran dan Natal pastilah ada sebuah bayangan gelap yang selalu mengikuti( baca menggoda ) bertolak belakang dengan dua moment sakral ini. Dua moment ini yang mengharuskan manusia sebagai umat beragama yang seharusnya mengaktifkan diri giat beribadah dari pada melakukan hal-hal yang tak perlu. Moment sangkral ini yang merupakan hari perayaan umat agama yang harapnya menjadikan kita sebagai manusia yang berkwalitas spiritual tinggi.

Namun sayangnya akhir-akhir ini seiring prilaku perkembangan zaman yang makin capitalist. Moment-moment sakral ini dipakai sebagai peluang oleh bayangan gelap itu, yakni kaum kapitalist. Betapa tidak, moment ini direngut oleh kaum kapitalist yang menjadikan dua hari raya ini sebagai komodifikasi yang menarik untuk dijual. Sehingga masyarakat tergoda mengonsumsi produk-produk mereka. Inilah fenomena penyakit konsumerisme yang sekarang menjangkiti orang Indonesia. Menurut Wikipedia Konsumerisme merupakan paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah untuk dihilangkan. Sifat konsumtif yang ditimbulkan akan menjadikan penyakit jiwa yang tanpa sadar menjangkit manusia dalam kehidupannya.

Wabah penyakit konsumersime ini sudah kian parah, malahan bisa dikategorikan Kejadian Luar Biasa, tapi sayang tak ada satu pihak mana pun yang berusaha menyembuhkan penyakit konsumerisme ini. Bahkan rezim yang berkuasa pun rupanya sudah dijangkiti lebih dulu, malahan lebih parah, lantaran banyak sekali penyakit berat yang menjangkiti rezim ini. Bisa dikatakan sumbernya berasal dari mereka. Tentu saja pemerintah tak bisa diandalkan, sebaiknya enyahkan saja mereka.

Gejalanya bisa dilihat, setiap menjelang lebaran dan natal, jauh-jauh hari mall-mall dan pusat berbelanjaan dengan gencar memromosikan sale, atau diskont besar-besar. Mereka bekerja sama dengan bank / penerbit credit card, menawarkan paket cicilan dengan bunga 0 % atau bunga kredit yang murah, agar konsumen tertarik membeli produk yang ditawarkan oleh merchant.

Sekali lagi in the name of shoping, pengidap shoopinghollic baru pun melakukan ritual belanja gila-gilaan, menghabiskan uang untuk membeli barang yang belum tentu penting buat mereka. Parahnya target kaum capitalist bukan berhenti pada konsumen yang berpunya, next target yakni anak muda yang mudah diprovokasi.

Solusi yang cerdas bebas dari penyakit konsumerisme adalah pada hati nurani kita, moment hari raya hanya datang setahun sekali, maka gunakanlah untuk beribadah sebaik mungkin, tingkatkan kwalitas spiritual kemudian gunakanlah uangmu dengan bijak. Itulah obat mujarab menyingkirkan penyakit konsumtif.

Kategori:Gaya Hidup
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: