Beranda > Kehidupanku > Menciptakan Pilihan bagi Gelandangan & Pengemis Anak-Anak

Menciptakan Pilihan bagi Gelandangan & Pengemis Anak-Anak


Image

Perasaan sedih, iba, gundah, marah dan lucu kadang-kadang tercampur baur menjadi satu ketika melihat aksi para gelandangan ataupun pengemis anak-anak. Betapa tidak, dengan hanya menggunakan atribut seadanya dan bermodalkan sebuah cawan baik yang terbuat dari kaleng maupun plastik, mereka mencoba mengundang perhatian para dermawan agar dapat memberikan “uang ala kadarnya”. Tidak hanya itu, dengan kepolosannya mereka seakan-akan tidak mau tau apa yang lagi dialami oleh para calon pelanggannya, malahan kadang-kadang yang menggelitik, dengan berkedok sebagai pengamen jalanan, ketidakfasihan seorang bocah mengucapkan kata-kata terdengar dari mulutnya ketika mereka mengawali aksinya dengan lantunan sebuah lagu yang diiringi musik tak berpola.

Kondisi ini semakin hari semakin memprihatinkan, karena tidak hanya di persimpangan jalan (traffic light), disepanjang emperan toko, terminal, stasiun, angkutan umum sampai di tempat hiburan pun mereka tidak sulit ditemukan. Terlebih lagi saat ini, ternyata fenomena serupa tidak hanya dapat ditemui di Kota-kota besar saja, namun telah menjalar dan sekaligus menjadi pemandangan yang tidak asing juga bagi masyarakat di daerah.

SEBAGAI PENGEMIS BUKAN PILIHAN

Jika kita mengasumsikan gelandangan dan pengemis anak-anak ini adalah mereka yang kesehariannya hidup di jalanan (anak jalanan), maka berdasarkan data yang dikeluarkan pusat data dan informasi kesejahteraan sosial kementerian sosial R.I pada tahun 2008 saja jumlahnya sudah mencapai 109.454 jiwa dari 2,25 juta jiwa anak yang tergolong terlantar. Jumlah tersebut tentunya belum dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya pada saat ini, khususnya data gelandangan dan pengemis anak-anak, mengingat data tersebut merupakan data 2 (dua) tahun lalu dan kemungkinan perubahan jumlahnya juga sangat besar. Berapapun jumlah gelandangan dan pengemis anak-anak saat ini, realitasnya menunjukkan bahwa mereka tetap ada di sekeliling kita dan kemungkinannya sampai kapan belum ada yang dapat menjawabnya secara pasti.

Sebagian besar manusia di dunia ini mungkin sepakat jika dikatakan Hidup ini penuh dengan pilihan. Namun, hal ini sangat tidak mungkin berlaku bagi anak-anak yang kesehariannya hidup dijalanan tersebut, khususnya mengais rejeki dengan cara menjadi pengemis. Keberadaan mereka di jalanan lebih diakibatkan karena kemiskinan yang turun-temurun mendera mereka. Orang tua yang diharapkan dapat memberikan penghidupan yang layak bagi mereka, untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari pun sulit untuk dipenuhi, apalagi untuk menyekolahkan mereka. Kondisi ini juga diperparah dengan adanya mafia jalanan yang secara “tega” telah meraup keuntungan memanfaatkan kondisi ini, dengan bangganya orang-orang yang tidak bertanggungjawab tersebut memobilasi para anak-anak ini untuk menjadi pengemis dijalanan. Hal inilah yang kemudian membuat para generasi penerus harapan bangsa ini seakan-akan kehilangan masa depan serta tak dapat mengelak dari kerasnya kehidupan jalanan, yang pada akhirnya tidak ada pilihan lain, kecuali dengan mengemis.

BERKARYA SEJAK USIA DINI

Mengemis memang bukan satu-satunya pekerjaan yang dapat dilakoni anak-anak tersebut dalam mengais rejeki di jalanan, mengamen, menyemir sepatu, menjadi kuli panggul, menjadi pemulung dan tukang parkir juga menjadi pekerjaan yang tidak asing bagi mereka. Namun, apakah hanya itu yang mereka bisa lakukan? Jawabannya tentu tidak.

Ada fenomena menarik dibalik anak-anak jalanan ini. Ternyata hampir sebagian besar dari mereka memiliki kemauan dan kemampuan untuk mendapatkan kehidupan layak dimasa depan. Lihat saja, ternyata ada sebagian diantara anak-anak ini yang mengemis untuk membiayai keperluan sekolahnya. Begitupula, prestasi yang ditunjukkan oleh “Aris” dalam ajang Indonesian Idol, maupun “klantink” dalam ajang Indonesia Mencari Bakat (IMB), kesemuanya ini telah membuka mata kita dan membuktikan kepada masyarakat bahwa anak-anak jalanan pun memiliki talenta yang berpotensi untuk dikembangkan. Sama halnya bagi anak-anak usia 6-18 tahun yang berprofesi sebagai pengemis tersebut, sebenarnya mereka juga memiliki bakat atau potensi untuk dikembangkan dan disalurkan ke hal-hal yang positif serta menghasilkan uang.

Untuk itu, sebagai upaya solutif dan konstruktif dalam rangka membebaskan anak-anak yang tak berdosa ini dari kekangan kehidupan jalanan serta guna menciptakan pilihan bagi mereka, perlu diupayakan suatu program strategis dan kreatif yang dapat membina mereka agar dapat berkarya sejak usia dini. Walaupun belum saatnya bagi mereka dibebani dengan usaha mencari nafkah, namun melatih suatu keterampilan yang dapat memacu mereka untuk berkarya tidak salah jika dilakukan sejak dini. Apalagi jika dengan penguasaan pada keterampilan tersebut, mereka dapat menciptakan karya yang bernilai jual, tentunya akan semakin banyak pilihan bagi mereka daripada sebagai pengemis.

PENELUSURAN MINAT DAN BAKAT

Sudah saatnya kita merubah mindset dalam penanggulangan masalah gelandangan dan pengemis anak-anak ini. Mereka tidak dapat dijadikan objek dari pelaksanaan program-program sosial yang berorientasikan proyek yang berkelanjutan saja, tapi harus berorientasi pada upaya membina mereka agar dapat memiliki keterampilan dan berkarya walaupun sejak usia dini. Oleh karena itu, sebagai wujud dari terbentuknya mindset ini, harus diawali dengan pendataan yang seksama, tidak hanya terbatas mendata jumlah mereka saja, namun juga harus dibarengi dengan penelusuran minat dan bakat mereka. Dalam pendataan, harus melibatkan para psikolog ataupun mereka yang ahli dalam pengembangan minat dan bakat, karena dengan pemetaan minat dan bakat tersebut, dari sinilah program-program pembinaan dapat digulirkan, sehingga lebih terencana, terarah dan sesuai dengan kebutuhan.

Hal ini tentunya juga berlanjut pada proses pelaksanaan program-programnya, harus melibatkan para ahli dibidangnya masing-masing, guna menjamin transfer ilmu pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang lebih bermutu dan interaktif. Tidak hanya membebani para penggiat sosial, yang kadangkala hanya mengandalkan semangat pantang menyerah tanpa memiliki kompetensi yang cukup.

MENENTUKAN PILIHAN TERBAIK

Menciptakan pilihan tidak sama dengan menciptakan peluang, sehingga masih perlu kerja keras untuk menentukan pilihan yang terbaik. Dalam dunia ekonomi, dikenal istilah biaya kesempatan (oportunity cost) sebagai akibat dari keputusan mengambil suatu alternatif (pilihan) tertentu. Biaya kesempatan merupakan nilai keuntungan yang dikorbankan dari suatu alternatif sebagai konsekuensi dari tidak dipilihnya altenatif tersebut. Pilihan terbaik adalah pilihan yang memiliki biaya kesempatan yang rendah atau dibawah dibandingkan nilai keuntungan yang didapatkan atas alternatif yang dipilih. Untuk itu, tidak hanya dengan menciptakan pilihan, diperlukan stimulus yang dapat mengarahkan para gelandangan dan pengemis anak-anak (anak jalanan) ini agar dapat menentukan pilihan terbaik bagi kehidupan mereka dan keluarganya di masa yang akan datang.

Tentunya hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun juga menjadi tanggungjawab semua masyarakat, khususnya bagi mereka yang berkomitmen dan peduli terhadap nasib anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: