Beranda > Kehidupanku > Generasi Pembelajar dan Nasib Indonesia Mendatang

Generasi Pembelajar dan Nasib Indonesia Mendatang


Image

Apakah mungkin perubahan akan terjadi di bumi Indonesia? Pertanyaan sederhana ini ternyata sukar ditemukan jawabanya, apalagi mewujudkannya secara nyata. Perubahan  memang mudah diucapkan, tetapi untuk mewujudkanya memerlukan proses yang berkelanjutan.

Pada masa kolonial, ketika bangsa Indonesia dicederai eksistensinya, perubahan seperti halnya surga. Ia menjadi cita-cita yang mulia, sehingga rakyat serentak meneriakkan perubahan yang akhirnya menjadikan Indonesia sebagai negara merdeka. Sayangnya, perubahan yang pernah diraih melalui pengorbanan yang besar justru saat ini semakin diperpuruk oleh beragam permasalahan. Kemiskinan, ketertingggalan pendidikan, eksploitasi SDA, dan disintegrasi sosial adalah sekian fakta keterpurukan negeri ini. Di tengah itu semua, korupsi tumbuh subur hampir di semua lembaga pemerintah, ditambah lagi dengan lemahnya penegakan keadilan. Cukup lah kompleks jika mau melucuti satu per satu.

Ambil contoh permasalahan kemiskinan. Kemiskinan yang semestinya menjadi prioritas utama justru jumlah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Yang mulanya penduduk yang tidak tergolong miskin, kini mulai mendekati atau  miskin. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), selama tiga tahun terkahir, jumlah penduduk hampir miskin terus bertambah secara konsisten. Pada tahun 2009, jumlah penduduk hampir miskin berjumlah 20,66 juta jiwa atau sikitar 8,99 persen dari total penduduk Indonesia. Pada tahun 2010, jumlahnya bertambah menjadi 22,9 juta jiwa atau 9,88 persen dari total penduduk Indonesia. Dan tahun ini, jumlah penduduk hampir miskin telah mencapai 27,12 juta jiwa atau sekitar 10,28 persen dari total populasi.

Sedangkan permasalahan lainya seperti ketertinggalan pendidikan, disintegrasi sosial, dan wabah korupsi juga semakin menumpuk. Parahnya lagi, ditengah maraknya tindakan korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara, penegakan keadilan justru semakin melemah. Berbagai kasus korupsi dan kekerasan, misalnya, kebanyakan tidak ditindak secara tegas.

Berbagai permasalahan bangsa diatas adalah potret buram yang harus menjadi refleksi bagi kita, bukan lantas menciutkan rasa memiliki bangsa ini, apalagi menjadikan kita semakin pesimis terhadap masa depan bangsa. Hal ini mengingat pesimisme masyarakat telah tergambar jelas dalam berbagai opini. Masyarakat telah banyak menyampaikan kritik, kegelisahan, kekesalan, dan bahkan kebencian terhadap negara. Dikhawatirkan,  kebencian ini akan menyeret pada  tindakan destruktif.

Maka dari itu, kita tidak perlu terjebak pada rasa kebencian terhadap para pengabdi negara karena kegagalanya dalam menjalankan amanah bangsa, dengan saling tuding salah, yang dalam hal ini kerap memunculkan emosi kolektif. Yang terpenting saat ini adalah sejauh mana tindakan kita untuk  melakukan perubahan bagi Indonesia, baik dalam aspek ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan budaya.

Langkah yang strategis untuk melakukan perubahan ini adalah menjadikan generasi bangsa sebagai modal utama bagi penggerak perubahan, karena dipundaknya lah nasib masa depan bangsa ini. Selama ini, problematika kebangsaan tidak disikapi secara mendasar dengan mempersiapkan anak bangsa untuk merubah Indonesia di masa depan. Langkah yang dilakukan selama ini masih bersifat instan, reaksioner, dan sementara. Padahal, sangat lah mustahil, keterpurukan bangsa yang sedemikian parahnya cukup dengan aksi sesaat. Ia melalui proses yang berkepanjangan dan berkelanjutan. Dalam hal ini, generasi bangsa (para pemuda) adalah kuncinya.

Sayangnya, selama ini, generasi bangsa yang merupakan elemen kunci bagi perubahan bangsa dianggap tidak penting. Bahkan, generasi muda dalam menatap masa depan kerap dihancurkan etosnya oleh sistem yang kotor. Generasi muda yang berkonsentrasi di bidang politik, misalnya, kerap dipatahkan masa depanya oleh kekuatan politik yang hanya dikendalikan oleh kelompok dominan dan kekuasaan modal. Begitu juga dalam bidang ekonomi, generasi muda kerap dijerumuskan oleh permainan penguasa modal. Jika demikian, bagaimana nasib bangsa ke depan, jika pemudanya sudah diberi sajian “menu kotor” terus menerus.

Karena itu, kiranya perlu menjadi kesadaran bersama, terutama para generasi muda, untuk membentuk gerakan kongkrit dalam rangka mewujudkan perubahan di Indonesia. Ditengah derasnya fakta yang memperpuruk bangsa ini, kita perlu mempertegas tugas sebagai sosok pembelajar, sehingga ia mampu mengambil sikap tegas dalam menghadapi keterpurukan. Ia tidak mudah diombang-ambingkan, apalagi dikerdilkan etosnya.

Menjadi Generasi Pembelajar

Tugas pemuda sebagai pembelajar memberikan pemahaman kepada kita bahwa pemuda bukan lah sosok yang dianggap tidak penting. Ia juga memiliki tugas dan tanggung jawab untuk melakukan perubahan. Bahkan, ia merupakan aset yang berharga bagi masa depan bangsa. Pemuda tidak hanya belajar tentang (learning how to think) dan belajar dalam arti praktik (learning how to do), tetapi juga belajar menjadi dirinya sendiri (learning to be).

Belajar tentang berarti belajar tentang sesutu seperti fisika, biologi, kimia, sosiologi, politik dan sebagainya. Sedangkan belajar dalam arti praktik berarti mencoba menerapkan prilaku dan kebiasaan tertentu. Namun, ini tidak lah cukup untuk membentuk kepribadian anak muda. Ia perlu “belajar menjadi” (learning to be). Belajar menjadi berarti ia mampu melakukan sesuatu sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Ini lah sosok pemuda yang menjadi generasi pembelajar.

Generasi pembelajar sebenarnya mengajak para pemuda untuk senantiasa mengungkap kesadaran akan jati dirinya agar tidak terombang-ambing oleh pelbagai problem kehidupan, termasuk menyangkut keterpurukan bangsa. Generasi pembelajar dalam pengertian ini,  sebagaimana diungkapkan oleh Andreas Harefa (2004;30-31), merujuk pada tanggung jawab setiap manusia untuk melakukan dua hal penting, yakni; pertama, senantiasa berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat-bakat terbaiknya, dan berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial.

Dalam menghadapi setiap keterpurukan, semisal kemiskinan, ketertinggalan pendidikan, disintegrasi sosial, merebaknya kasus korupsi, dan pelemahan penegakan hukum, ia tidak mudah pesimis untuk melakukan yang terbaik untuk bangsa ini. Ia tidak mudah terjebak pada kebencian kolektif dalam merespon banyaknya problem. Dengan mental dan kemandirinya, ia justru berusaha menjaga kepribadiannya.

Kedua, generasi pembelajar senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensinya itu, mengekspresikan dan menyatakan diriya dengan sepenuhnya dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan segala sesuatu yang bukan dirinya. Melihat kasus korupsi yang sepertinya sudah mewabah dari generasi ke generasi, misalnya, generasi pembelajar pantang mewarisi perilaku kotor tersebut. Begitu juga dengan tindakan penyimpangan lainnya.

Kedua hal penting ini harus menjadi kesadaran generasi muda agar tidak berhenti pada sikap mengikuti “arus kemanapun berarah”. Sosok pembelajar akan semakin tegas dan jelas dalam menghadapi realitas keterpurukan. Bagi dia, realitas keterpurukan adalah bahan pelajaran dalam mengambil sikap sesuai dengan karakter yang dimilikinya.

Karakter Pembelajar

Perlu diingat bahwa generasi pembelajar bukan sekadar belajar tentang sesuatu dan belajar dalam arti praktek, melainkan ia mampu mengenali hakikat dirinya sebagai manusia. Ia bertindak berdasarkan mental kepribadian atau karakternya. Selain itu, sosok pembelajar merasa dirinya memiliki tanggung jawab yang besar terhadap apa yang menjadi tugasnya.

Krisis kepribadian yang akhir-akhir ini telah menjadi kegelisahan bersama mengingatkan kita bahwa generasi muda perlu belajar menjadi (learning to be). Menjadi generasi pembelajar, anak muda lebih mengedepankan mental kepribadiannya. Mental jujur pada dirinya sendiri, berani mengahadapi permasalahan, tanggung jawab terhadap sekitarnya, damai dalam melihat perbedaan, dan mandiri dalam merespon ketertinggalan, hanya bisa ditemukan dalam sosok pembelajar.

Selain itu, patut disadari bahwa bangsa yang cerdas dan berkarakter adalah ketika para generasi mampu mengungkap kesadaran akan hakikat dirinya, mengenali bakat terbaiknya, dan kemampuan untuk mengaktualisasikan dirinya. Hal ini merupakan kunci dalam proses pemberdayaan mental dan kreativitas anak bangsa, yang pada akhirnya nasib bangsa Indonesia mendatang semakin tercerahkan.

 Source : http://kem.ami.or.id/2012/03/generasi-pembelajar-dan-nasib-indonesia-mendatang/

Kategori:Kehidupanku Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: