Beranda > Kehidupanku > Orang Indonesia, Siapakah Itu ?

Orang Indonesia, Siapakah Itu ?


Image

Jika ada yang bertanya, apakah anda bangga menjadi bangsa Indonesia? Tentu saya akan jawab “ya saya bangga”. Dengan sebuah alasan, dikarenakan Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia, yang terdiri dari 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni). Disini ada 3 dari 6 pulau terbesar didunia, yaitu : Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua (421.981 km2).

Rakyat mana yang tak akan bangga, bila menjadi bangsa suatu Negara yang mempunyai banyak pulau. Indonesia bukan hanya Negara yang berdiri apa adanya. Melainkan, sebuah Negara yang sesak dengan ribuan kelebihan yang belum tentu dimiliki Negara lain. Selain  mempunyai penduduk yang cukup besar, Indonesia juga merupakan Negara muslim terbesar di dunia.

Kewajiban, yang tidak boleh tidak, harus direalisasikan oleh pemimpin Indonesia adalah mengelola dan mengembangkan apa yang telah menjadi milik Indonesia, sebagaimana rincian diatas. Sebagai bentuk syukur kepada tuhan yang telah melimpahkan karunia besar kepada kita. Selain itu, ia juga berkewajiban untuk mengelola dan memanage, guna mencapai kesetaraan dan kesejahteraan rakyat Indonesia dalam bersosial. Sebenarnya, mensejahterakan anggota, sudah menjadi tugas primer dalam diri seorang pemimpin, sekalipun tanpa kelebihan diatas. Apalagi pemimpin negara; Mengayomi dan menjamin kehidupan yang baik untuk rakyat: dalam hal ekonomi, pendidikan dan hak-hak lainnya, tuntutan atas predikat yang diberikan oleh bangsa kepadanya. Selain sebagai pemimpin, juga karena kemanusian yang melekat pada dirinya.

Tapi apa jadinya, jika sebuah negara berdiri dengan pemimpin yang tak bertanggung jawab dan tak dapat menjadi malaikat pada bangsanya? Semuanya akan berantakan: kekayaan alam tidak diproduksi, kemudian merambat pada eksistensi masyarakat. Imprialisme, kapitalisme serta kapitalisme menjadi daun-daun yang terus berkembang, menumbuhkan bunga-bunga marginalitas kemanusian dan mendehumanisasikan manusia. Hanya dikarenakan, pemimpin yang tak berkepribadian pemimpin, seribu problematika kemanusian termasuk juga ketatanegaraan muncul bertubi-tubi. Disini, ketegasan, progresif dan kepiawaian melihat peluang untuk maju sangat diperlukan, lebih-lebih bagi pemimpin negara.

Memorial Si Miskin

Indonesia, dengan beragam kekayaan pulaunya, seharusnya mampu memberikan yang terbaik. Menjadi negara superior dan tak kan (lagi) ada rakyat yang tertindas, atau kekurangan pendidikan. Ternyata, semua itu hanyalah sebuah ilusi fatamorgana kehidupan yang sangat absurd, untuk kemudian dinikmatinya bersama. Buktinya, kini Indonesia telah gagal dari visi utamanya: mensejahterakan rakyat dan menjunjung tinggi keadilan, sesuai filosofis pancasila pada sila kedua. Dari sekian penduduk yang terdata yang paling banyak adalah rakyat miskin. Penduduk dapat dikatakan miskin, apabila pendapatan tidak sampai Rp 200.000 di setiap bulannya. Inilah yang kemudian mengubah hati dan fikiran saya untuk berkata “kecewa” pada Indonesia, dan saya merasa malu menjadi bangsa Indonesia. Tidak lain karena kegagalan yang saya anggap sangat fatal. Bagaimana tidak, sedangkan segalanya sudah disediakan oleh tuhan. Tinggal bagaimana kita mengelolanya. Ternyata?

Andai saja, kita mau membangun kolektivitas, berpegang teguh pada asas kemanusiaan serta jiwa ketuhanan, niscaya tak satupun rakyat Indonesia yang mengalami kekurangan dalam hal apapun. Tidakkah cukup, kekayaan alam yang dimiliki, jika diproduksi dengan efektif akan membawa Indonesia pada tingkat kesejahteraan yang tinggi, dalam berbagai aspek? Realitas sosial, persentase penduduk miskin saat ini diperkirakan mencapai 15,97 persen. Banyak orang-orang disekitar kita merenggek, berseru serta mengoceh bersama hembusan angin, meminta balas kasih dan hak-hak mereka kepada negara. Namun, sepertinya kita percuma punya hati, telinga dan mata, ternyata tidak dapat merasa, mendengar dan melihat keperihan yang mendera mereka. Apakah sikap seperti: acuh dan tak peduli terhadap sesama pantas untuk kita miliki? Padahal negara kita mayoritas adalah berpenduduk muslim, lalu dimana sikap solidaritasnya, patriotisnya dan nasionalisnya, bukankah islam juga mengajarkan tentang kemanusiaan dan cinta tanah air? Bilangnya,  orang islam. Tapi tak berperilaku sebagai muslim. Ngakunya cinta tanah air,  nyatanya malah merusak dan membiarkannya kucar-kacir. Lalu, dimana letak ke Indonesiannya?

Negara, dengan sejumlah pejabat tinggi negara telah menjadi monster berhala baru. Para pemimpin-pemimpin negara dan para politikus hanya bergulat menuju tahta untuk mereka sendiri. Tanpa tengok sana, tengok sini. Mereka telah dimabukkan oleh pragmatisme dunia, lupa pada budi luhur Indonesia yang berpancasila. Menjunjung tinggi nasionalisme atau persatuan Indonesia dan kemanusiaan adalah dasar pancasila yang dijadikan ideologi tanpa gerak aktif yang realistis.

Lalu, siapa lagi yang akan memperhatikan dan memperjuang hak-hak kaum buruh miskin, jika ternyata, manusia yang kita tuhankan dalam negara, malah menjadi iblis diam-diam dan menghianati janji? Inikah pemimpin Indonesia? Tidak adakah dari manusia-manusia Indonesia yang pantas disebut pemimpin? Benarkah seorang pemimpin harus menduduki kursi singgasana? Akankah, pemimpin kita adalah mereka yang memandang sinis rakyat buruh tani? Sungguh, sama sekali tidak merakyat. Mereka lupa bahwa protein yang dikonsumsi, karena keringat basah kaum tani. Kaum tani tak lebih dari tuhan yang tertindas oleh hambanya, raja yang dieksploitasi oleh kaumnya. Sangat memalukan.

Adakah diantara kita yang sudi, meluangkan waktunya untuk mendengarkan ratapan rakyat yang tertindas? Atau merelakan hidup dan matinya demi memperjuangkan hak-hak kemanusiaan. Saya terharu ketika mendengarkan tuturan penjual pentol. Sekiranya dibenarkan, pemimpin Indonesia hanyalah mereka yang memperjuangkan hak-hak kemanusiaan. Tanpa menduduki kursi tertinggi yang bergengsi untuk melakukan langkah dengan dinamis. Tak gembar-gemborkan janji, justru memberi bukti sebelum diminta dan dituntut. Sadar, bahwasanya tak ada manusia yang lebih mulia, dari seorang yang memberi kebahagiaan bagi yang lain.

Masalahnya, kita tidak memiliki manusia yang berkepribadian manusia, setelah perjuangan yang berdarah-darah pada tahun 1945 tersebut. Untuk mendapatkan kemerdekaan, sehingga manusia dapat bergerak bebas dan setara. Tapi, kita terbuai oleh kemolekan kemerdekaan yang tak sepenuhnya merdeka. Kejahatan kolonialisme masih mengalir di setiap aliran darah bangsa Indonesia. Semuanya ingin merasakan menjadi penguasa adi daya. Bukan suatu yang mustahil, bila para pemimpin masih menyelipkan akal busuk di setiap kinerjanya seperti yang kita rasakan saat ini. Kemerdekaan hanya milik mereka yang berkuasa, sementara kita hanya bisa melihat tapi tak dapat merasakan. Merdeka bagi rakyat kecil hanyalah impian yang tak akan pernah tercapai, dan menjadi catatan luka yang tak tersembuhkan.

Alangkah malangnya negara ini, dipercayakan kepada manusia yang tak manusiawi. Sehingga dimana-mana sering kita jumpai rakyat meratapi ketidaksewenag-wenangan para pemimpin. Bergerak kesana salah, berjalan kesini salah. Lalu yang benar? Kebenaran tidak akan pernah ditemukan dari tangan pemimpin. Sebab, mereka tak pernah tahu makna kebenaran hakiki.

Alangkah tersiksanya negara ini, karena tidak ada keadilan yang dipancarkan dari aura sang pemimpin. Orang-orang miskin semakin terinjak dan yang beruang semakin berkuasa. Bahkan, untuk sekedar merasakan suasana pendidikan amit-amit dibolehkan, walau sebenarnya kedatangan mereka hanya untuk membersihkan laingkungan. Bukankah kita sering melihat bacaan “pemulung dilarang masuk arena kampus” Apalagi dapat merasakan manisnya bangku pendidikan. Baginya pendidikan adalah gunung tinggi yang tak mampu mereka mendaki.

Sebenarnya kita tidak pernah mengerti tentang hidup berbangsa. Memang, sacara statistik kita adalah bangsa Indonesia. Tapi ingat, bahwa Indonesia adalah blasteran antara Belanda dan Jepang. Dapat dipastikan orang-orang Indonesia terkesan menjajah dan disesakkan oleh janji-janji dalam kepemimpinannya. Maka kita tak sepenuhnya menjadi Indonesia, sebelum menangis dan melangkah untuk rakyat kecil.

Yang sulit dipercaya adalah kemampuan mereka untuk mengambil tema nasionalisme tanpa perlu terdengar menggurui. Menjadi Indonesia begitu kontemplatif. Jadi membangkitkan nasionalisme lewat gugahan perasaan yang memang tulus munculnya, bukan gembar-gembor bahwa nasionalisme harus diagungkan di posisi paling atas kehidupan bernegara. Singkatnya, nasionalisme yang diperkenalkan lewat Menjadi Indonesia bukanlah nasionalisme omong kosong yang banyak berseliweran di hidup bangsa ini.

Manusia Indonesia

Untuk menjadi Indonesia seutuhnya, tidaklah mudah sebagai membalikan telapak tangan. Pastinya kita harus dapat mengubur dalam-dalam beragam kenangan pahit bersama penjajah tersebut. Supaya darah yang mengalir dalam tubuh ini bukanlah manifestasi sifat jelek para kolonial.

Segala bentuk ragam rintangan itu dapat disingkirkan setidaknya dengan beberapa cara. Pertama, dari sejak kecil manusia-manusia Indonesia harus diperkenalkan dengan pendidikan moral—moralitas sebagai landasan kebudayaan dan keberadaban. Pendidikan moral ini dapat ditanamkan di rumah, sekolah, dan lingkungannya. Peran serta ibu dan bapak di sini begitu penting. Selain keluarga, karakteristik anak dibentuk melalui lingkungan, melalui teman sepermainan misalnya. Lingkungan berpengaruh sekali terhadap perilaku dan tingkah laku anak-anak di masa depan. Kemudian, di sekolah, mulailah anak-anak diajari prinsip-prinsip moral dengan metode agak formalistik. Di ranah ini arahan-arahan dan anjuran-anjuran terlebih dahulu diseting.

Yang lebih penting. Kedua, pendidikan moral saja tak akan cukup untuk membentuk manusia Indonesia yang beradab dan berbudaya. Bangsa ini membutuhkan figur-figur panutan. Benak manusia-manusia Indonesia terlampau penuh dengan gambaran-gambaran kecurangan yang telah dicipta, para publik figur. Sedikit sekali yang bisa menjadi figur yang baik di negeri ini, itupun hanya sebagian yang bisa bergerak dan eksis, lainnya perlahan tenggelam karena tekanan dari luar. Figur-figur yang baik tentu akan menuntun manusia Indonesia pada kebaikan. Karena figur yang baik, berawal dari masing-masing individu-individu akan menjadi panutan yang baik. Jika memang ia terlebih dahulu menjadi baik. Jadi, mulailah semuanya dari diri sendiri. Karena nilai-nilai moral akan berawal dan berkembang dari sini.

Konsep tuhan dalam alqur’an “segala bentuk perubahan dapat terkabulkan dengan catatan ada keinginan untuk berubah”. Selamat menjadi Manusia Indonesia!

Source: http://kem.ami.or.id

Kategori:Kehidupanku Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: