Beranda > Kehidupanku, Musik > Review Penampilan Evanescence

Review Penampilan Evanescence


Image

Salah satu momentum yang cukup mengundang perhatian pada malam penampilan band asal Little Rock, Arkansas, AS ini adalah ketika barisan penonton kelas festival merangsek masuk ke barisan penonton kelas VIP.

Beberapa ada yang langsung memanjat pagar pembatas, sedangkan sisanya mengikuti instruksi petugas keamanan yang tiba-tiba mengijinkan para penonton untuk “naik kelas” dengan membukakan pintu yang ada di sekat pembatas tadi.

Insiden “naik kelas” yang terjadi tepat beberapa menit sebelum Evanescence naik ke atas panggung bisa jadi merupakan kado termanis bagi mereka yang membeli tiket kelas festival. Sementara mereka yang terlanjur membeli tiket kelas VIP hanya bisa gigit jari menahan kecewa. “Wah, tahu gitu kita beli yang festival aja ya,” celetuk salah seorang penonton VIP yang mengeluhkan insiden itu.

Entah apa yang sedang dialami promotor Showmaxx Entertaiment sampai mempersilakan kapasitas kelas seharga Rp 1.200.000 itu diisi oleh penonton kelas-kelas di bawahnya. Padahal menurut kabar yang beredar sebelum konser, tiket VIP yang dijua pihak promotor ludes terjual tanpa sisa.

Yang jelas ketika hits terakhir “Pasti Cemburu” selesai dimainkan Gecko sebagai band pembuka malam itu, barisan penonton kelas termewah di acara ini masih belum mencapai separuhnya.

Histeria para penonton “naik kelas” itu pun kian menjadi ketika selang beberapa menit kemudian beat drums intro lagu “What You Want” dimainkan drummer Will Hunt yang secara tidak langsung menjadi penanda bahwa “pesta malam ini dimulai!”

Tanpa banyak bicara, frontwoman Amy Lee pun langsung keluar dari belakang panggung dan segera menyamber mic sambil menyanyikan bait lagu single pertama album Evanescence yang rilis Oktober 2011 lalu itu.

Animo penonton tetap terjaga ketika sebuah nomer lawas dari album yang mengangkat nama band rock moderen ini di tahun 2003, Fallen, “Going Under” dimainkan sebagai lagu ke dua. Sing along para penonton pun terus mengalir tanpa henti.

Ini seakan membuktikan bahwa mereka yang hadir adalah benar-benar penggemar setia Amy Lee cs yang telah menunggu kehadiran band ini di tanah air sejak ketenaran mereka masih memuncak sembilan tahun yang lalu.

Dari tujuh belas lagu yang dibawakan, sebagian besar diambil dari album terbaru Evanescence. Beberapa single seperti “Lost in Paradise”, “My Heart is Broken”, dan “Swimming Home” menunjukkan betapa impresifnya permainan piano serta vokal Lee.

Ia benar-benar menikmati konser malam itu. Sedikit kata-kata yang ia umbar kepada penonton. Hanya beberapa patah kata seperti “Thank you, Anda semua senang?”, dan “Kalian hebat!” yang diucapkan satu-satunya personil perintis band ini yang masih tersisa.

Histeria yang disambut dengan nyanyian para penonton kembali tinggi saat hits dari album penuh ke dua, The Open Door, “Call Me When You’re Sober” dimainkan. Energi yang dibawa kawanan Arkansas ini pun kembali terkumpul setelah sebelumnya mereka membawakan lagu-lagu bertempo sedang, “Sick” dan “Oceans”.

Bahkan drummer Will Hunt berkali-kali menunjukkan aksi akrobatik dengan melempar lalu menangkap stik drum di tangan kirinya di sepanjang lagu yang video musiknya mengambil tema Little Red Riding Hood ini.

Hype pun kembali tinggi saat single andalan “Bring Me To Life” dimainkan. Lantunan denting piano yang muncul dari keyboard Lee langsung disambut oleh teriakan histeris penonton yang kemudian turut bernyanyi bersama sang vokalis. Meskipun bagian rap vokalis 12 Stones, Travis McCoy dihilangkan, namun lagu ini tetap memukau ribuan penonton yang sudah menunggu lagu ini dimainkan sejak awal konser.

Hal lain yang perlu mendapat acungan dua jempol adalah konsep tata lampu yang menyorot panggung malam itu. Dengan backdrop seperti pada sampul album Evanescence: kain hitam polos dengan goresan noda biru keungu-unguan ditengah serta tulisan “Evanescence” yang timbul-tenggelam dari sorotan proyektor dengan dua lampu neon biru panjang melintang di belakangnya semakin menambah nuansa gothic dari musik dark rock yang mereka usung.

Kilatan cahaya merah, biru, hijau, dan ungu yang bersumber dari lampu merkuri warna-warni seakan-akan turut bermain, bergantian menyorot tulisan nama band ini di tengah-tengah backdrop.

Konser malam itu pun akhirnya berakhir dengan encore dua lagu, “Your Star” dan “My Immortal” yang memang ditunggu-tunggu oleh penonton sejak awal konser. Dan Lee kembali memukau dengan permainan piano impresif-nya serta penjiwaan lirik yang ia lakukan saat bernyanyi.

Aksi lempar head snare dan floor-tom drums yang dilakukan Will Hunt, serta bagi-bagi pick gitar oleh duo gitaris Terry Balsamo dan Troy McLawhorn, juga bassist Tim McCord menjadi hiburan penutup yang membuat para pengiring Amy Lee itu belum bisa meninggalkan panggung.

Secara keseluruhan, konser ini masih milik Amy Lee. Figurnya terlalu kuat untuk band yang menyisakan dia seorang sebagai personel tetap Evanescence dari awal berdiri. Suaranya yang memukau serta kepiawaiannya bermain piano membuatnya menjadi the woman on stage that mattered malam itu. Evanescence itu Amy Lee. Begitu juga sebaliknya

Foto Konser Evanescence

Image

Image

Image

Image

Kategori:Kehidupanku, Musik Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: